Minggu, 03 Desember 2017

UPAYA MENINGKATKAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL SISWA MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK LATIHAN ASERTIF


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
                 Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kreativitas pendidikan itu sendiri. Selain itu pendidikan merupakan wadah yang dapat dipandang sebagai pembentuk sumber daya manusia yang bermutu tinggi. Berbicara mengenai pendidikan maka kita akan dihadapkan pada pembicaraan mengenai guru dan siswa yang tidak terpisahkan bagaikan dua mata uang. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mengajar, mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Oval: 1                 Sekolah juga merupakan wadah mendidik, membimbing atau tempat latihan bagi siswa dalam mempersiapkan diri dimasa yang akan datang sehingga diperlukan sesuatu yang dapat membantu siswa mencapai tujuannya. Salah satu bagian dari pendidikan adalah layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Bimbingan dan konseling memiliki sembilan layanan dan salah satunya adalah layanan bimbingan kelompok. Menurut Achmad Juntika Nurihsan (2006:23) bimbingan kelompok merupakan bantuan terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok. bimbingan kelompok dapat berupa penyampaian informasi ataupun aktivitas kelompok membahas masalah-masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi dan sosial.
                 Layanan bimbingan kelompok dapat dilaksanakan di berbagai kesempatan, salah satunya adalah sekolah. Dalam proses pendidikan di sekolah banyak dijumpai permasalahan yang dialami oleh siswa, terutama dalam melakukan komunikasi, baik yang bersumber dari pribadi siswa sendiri ataupun lingkungan. Manusia adalah mahluk sosial dan memerlukan hubungan dengan orang lain. Manusia ingin mendapatkan perhatian di antara sesama kelompok. diperlukan serba hubungan dan mempergunakan berbagai cara, alat, media, dan lain-lain. Komunikasi sangat diperlukan dalam hubungan antar individu dikehidupan sehari-hari. Kerja sama dan koordinasi yang baik akan tercapai saat komunikasi yang dibangun baik dan hubungan yang harmonis akan tercapai saat komunikasi yang dibangun baik pula.
                 Menurut A.W. Wijaya, (1998:68) Komunikasi yang tidak lancar disebabkan karena beberapa hambatan. Hambatan-hambatan tersebut adalah kebisingan, keadaan psikologi komunikan, kekurangan komunikator atau komunikan, kesalahan penilaian oleh komunikator, kurangnya pengetahuan komunikator atau komunikan, bahasa, isi pesan berlebihan, bersifat satu arah, faktor teknis, kepentingan atau interest, prasangka, cara penyajian yang verbalistis, dan sebagainya        
Komunikasilah yang memungkinkan individu membangun suatu kerangka rujukan dan menggunakannya sebagai panduan untuk menafsirkan situasi apapun yang ia hadapi. Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia bisa dipastikan akan “tersesat” karena ia tidak sempat menata dirinya dalam suatu lingkungan sosial. Salah satu dari banyaknya komunikasi adalah komunikasi interpersonal. Berbicara mengenai komunikasi interpersonal banyak fenomena yang ada, diantaranya komunikasi interpersonal kadang-kadang tidak dilaksanakan sesuai dengan fungsinya, seperti komunikan kurang dapat melakukan komunikasi interpersonal karena mempunyai konsep diri yang kurang baik. Arti dasar komunikasi merupakan proses penyampaian informasi dari seorang komunikator kepada komunikan untuk menyampaikan sesuatu (pesan) guna bertukar pikiran, dan penyampaian tujuan.
                 Di dalam buku komunikasi interpersonal oleh Suranto AW (2011:30) dijelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kadar hubungan interpersonal, diantaranya toleransi, kesempatan-kesempatan yang seimbang. sikap menghargai orang lain, sikap mendukung, bukan sikap bertahan, sikap terbuka, kepercayaan, respon, suasana emosional. Banyak faktor penentu yang sangat menunjang terbentuknya suatu komunikasi yang efektif antara komunikator dengan komunikan khususnya dalam kegiatan belajar di sekolah. Layanan bimbingan kelompok sangat penting dilakukan dalam meningkatkan komunikasi interpersonal antar siswa di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.
                 Komunikasi interpersonal yang kurang ini terjadi dikarenakan siswa yang kurang tegas dalam penyampaian pendapatnya, sehingga diperlukan teknik yang dapat membantu siswa tersebut. Teknik yang cocok adalah teknik latihan asertif dimana siswa dilatih untuk bersikap tegas sehingga tidak sulit dalam menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak dan benar.  Kesukaran-kesukaran komunikasi interpersonal pada kehidupan pribadi individu siswa agar tidak membawa dampak yang kurang baik bagi kegiatan-kegiatan dalam meningkatkan kemampuan berkomunikasinya, bimbingan dalam setiap usaha pendidikan kegiatan bimbingan sangat diperlukan. Dalam hal ini seorang pembimbing bisa menggunakan tindakan yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling, khususnya Penelitian Tindakan, dalam Bimbingan dan Konseling (PTBK).
                 Penelitian Tindakan merupakan salah satu strategi yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam praktiknya Penelitian tindakan menggabungkan rangkaian tindakan dengan menggunakan prosedur penelitian. Maka dari itu penelitian tindakan dikatakan sebagai upaya untuk memecahkan masalah sekaligus mencari dukungan ilmiah. Sebagaimana dikemukakan Kemmis dan Mc. Taggart (1992) :
Action research in a from of collective self reflective enquiry understaken by participants in social situation in order to improve the rationality and justice of their own social or educational practice, as well as their understanding of these practice and the situation in which these practices are carried out.

                 Berdasarkan uraian di atas mendorong keinginan peneliti sebagai peneliti untuk melaksanakan penelitian yang berfokus pada kegiatan Penelitian Tindakan dalam Bimbingan dan Konseling (PTBK) di Sekolah dalam upaya meningkatkan komunikasi interpersonal siswa melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik latihan asertif pada siswa. Peneliti beranggapan bahwa sekolah mampu menyelenggarakan Penelitian Tindakan dalam Bimbingan dan Konseling (PTBK) khususnya guru pembimbing melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik latihan asertif yang akan berdampak pada meningkatnya komunikasi interpersonal siswa.
                 Dari kenyataan yang ada dilapangan berdasarkan observasi  yang peneliti lakukan dan diperkuat oleh informasi dari guru bimbingan dan konseling di Sekolah Menengah Pertama Swasta Mujahidin Pontianak, terdapat siswa yang tidak memiliki tingkat komunikasi interpersonal yang baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil data sosiometri yang peniliti lakukan dan beberapa gejala yang tampak dilapangan diantaranya adalah siswa yang gugup dan bingung serta malu-malu saat diajak berkomunikasi, siswa yang sulit bergaul dan menutup diri bahkan siswa juga tidak tertarik, cuek bahkan tidak memperhatikan lawan bicaranya. Adanya gejala tersebut menunjukan bahwa kurangnya serta rendahnya kemampuan komunikasi interpersonal pada siswa.
                 Gambaran yang diperoleh peneliti dari hasil observasi tersebut membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Komunikasi Interpersonal Siswa Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Latihan Asertif Pada Siswa Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Swasta Mujahidin Pontianak”

B.  Rumusan Masalah Penelitian
                 Secara umum masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana meningkatkan komunikasi interpersonal siswa melalui layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik latihan asertif pada siswa kelas VIII Sekolah Menegah Pertama Swasta Mujahidin Pontianak?” Selanjutnya dirinci kedalam sub masalah penelitian sebagai berikut :
1.    Bagaimanakah gambaran komunikasi interpersonal pada siswa kelas VIII Di Sekolah Menengah Pertama Swasta Mujahidin Pontianak?
2.    Bagaimana pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik latihan asertif untuk meningkatkan komunikasi interpersonal siswa kelas VIII Di Sekolah Menengah Pertama Swasta Mujahidin Pontianak?
3.    Apakah layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik latihan asertif dapat meningkatkan komunikasi interpersonal siswa kelas VIII Di Sekolah Menengah Pertama Swasta Mujahidin Pontianak?

C.  Tujuan Penelitian
                 Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk menngetahui Layanan Bimbingan Kelompok Dengan Menggunakan Teknik Latihan Asertif tepat Untuk Meningkatkan Komunikasi Interpersonal Pada Siswa Kelas VIII Sekolah Menegah Pertama Swasta Mujahidin Pontianak.
Berdasarkan rumusan masalah penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1.    Gambaran awal komunikasi interpersonal pada siswa kelas VIII Di Sekolah Menengah Pertama Swasta Mujahidin Pontianak
2.    Pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik latihan asertif untuk meningkatkan komunikasi interpersonal pada siswa kelas VIII Di Sekolah Menengah Pertama Swasta Mujahidin Pontianak
3.    Layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik latihan asertif dapat meningkatkan komunikasi interpersonal pada siswa kelas VIII Di Sekolah Menengah Pertama Swasta Mujahidin Pontianak

D.  Manfaat Penelitian
                 Hasil informasi objektif yang diperoleh dalam penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat baik yang bersifat teoritis maupun bersifat praktis sebagai berikut:
1.    Manfaat Teoritis
              Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan dan wawasan bimbingan dan konseling khususnya meningkatkan komunikasi interpersonal melalui layanan bimbingan kelompok pada siswa.
2.    Manfaat Praktis
a.    Siswa
              Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian oleh siswa dalam memahami pentingnya meningkatkan komunikasi interpersonal demi mengatasi permasalahan yang sedang dialami siswa baik permasalahan dilingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat
b.    Guru Bimbingan dan Konseling
              Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan atau informasi bagi guru pembimbing untuk meningkatkan komunikasi interpersonal melalui layanan bimbingan kelompok.

c.    Peneliti
              Hasil penelitian ini sebagai upaya bagi penenliti dalam peningkatkan ilmu pengetahuan dalam program bimbingan dan konseling dan dapat melihat dilapangan terutama dalam penggunaan layanan bimbingan kelompok

E.  Ruang Lingkup Penelitian
                 Guna membatasi dan memperjelas penelitian ini, agar lebih jelas ruang lingkupnya maka pembahasan ini akan dibahas tentang fokus penelitian dan definisi operasional, yaitu sebagai berikut :


1.    Variabel Penelitian

              Variabel merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam penelitian. Hamid Darmadi (2011:14) menyatakan “Variabel adalah suatu atribut, nilai-nilai, sifat, dari objek-objek, individu dan atau kegiatan yang ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan dicari informasinya serta ditarik kesimpulannya dalam suatu penelitian”. Sugiyono (2014:56) juga mengatakan “Variebel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari diperoleh informasi dan kemudian ditarik kesimpulannya.
              Dengan demikian, variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informs tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya
              Terdapat dua variabel yang digunakan dalam penelitian tindakan bimbingan dan konseling (PTBK), yaitu variabel masalah dan variabel tindakan.
a.    Variabel Masalah
              Variabel dalam penelitian adalah Komunikasi Interpersonal dengan aspek-aspek sebagai berikut :
1)   Keterbukaan (openess)
2)   Empati (empathy)
3)   Dukungan (suportiveness)
4)   Kepositifan (postiveness)
5)   Kesetaraan (equality) (Suranto Aw 2011: 83)
b.    Variabel Tindakan
              Variabel tindakan yang digunakan pada penelitian ini adalah “Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Latihan Asertif” dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1)   Identifikasi Masalah
2)   Analisis Situasi
3)   Dalam Proses Latihan
4)   Evaluasi Hasil dan Tindak Lanjut
2.    Definisi Operasional
              Definisi operasional adalah penjelasan terhadap istilah dalam fokus penelitian, semuanya itu dilakukan dalam upaya agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam pengertian istilah yang dimaksudkan, adapun definisinya sebagai berikut :
a.    Komunikasi interpersonal
          Komunikasi interpersonal dalam penelitian ini adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal, dengan aspek-aspek sebagai berikut:
1)   Keterbukaan (openness), yaitu memeberi informasi mengenalkan diri, jujur, bertanggung jawab, dan tidak mengkambinghitamkan orang lain.
2)   Empati (empathy), yaitu kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain.
3)   Dukungan (suportiveness), yaitu lebih bersikap deskriptif dalam berkomunikasi dibanding evaluatif
4)   Kepositifan (positiveness), yaitu komunikasi yang berdasarkan sikap positif dan menghargai orang lain.
5)   Kesamaan (equality), yaitu pengakuan bahwa kedua belah pihak memiliki kepentingan, sama-sama bernilai dan berharga dan saling memerlukan
b.    Teknik latihan asertif
              Teknik latihan asertif dalam penelitian ini merupakan teknik dalam konseling behavioral yang menitikberatkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya. Langkah-langkah latihan asertif adalah sebagai berikut :
1)   Identifikasi Kasus, yaitu menganalisis permasalahn klien
2)   Analisis Situasi, yaitu menunjukkan kepada klien bahwa terdapat banyak alternatif dalam mengatasi masalahnya
3)   Dalam Proses Latihan, yaitu memperhatikan hal-hal yang terkait dengan kontak mata, postur tubuh, gerak isyarat, ekspresi wajah, suara, pilihan kalimat, tingkat kecemasan, kesungguhan dan motivasinya
4)   Evaluasi Hasil dan Tindak Lanjut, yaitu melakukan evaluasi setelah klien melakukan tugas yang diberikan dan melakukan tindak lanjut apabila evaluasi hasil gagal.
c.    Layanan bimbingan kelompok
              Bimbingan kelompok dalam penelitian ini adalah proses layanan yang diberikan kepada individu dalam situasi kelompok dengan memanfaatkan diskusi dan dinamika anggota kelompok, ditujukan untuk membantu mencegah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan potensi siswa.
F.   Kerangka Tindakan dan Hipotesis Tindakan
1.    Kerangka Tindakan
              Kerangka tindakan adalah rencana tindakan yang disusun secara singkat untuk menjelakan rencana penelitian tindakan yang dilakukan dari awal, proses pelaksanaan, hingga akhir. Kerangka tindakan disusun dalam bentuk kalimat-kalimat atau digambarkan sebagai alur rencana tindakan.
              Sebelum melakukan penelitian, hal pertama yang harus dilakukan peneliti adalah melakukan observasi, kemudian peneliti menyiapkan pedoman observasi dan melakukan pengamatan terhadap siswa Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Swasta Mujahidin Pontianak. Dari hasil obseravi dapat diketahui bahwa di Sekolah Menengah Pertama Swasta Mujahidin Pontianak, khususnya kelas VIII masih terdapat beberapa gejala-gejala perilaku siswa yang memiliki kemampaun komunikasi interpersonal yang kurang optimal contohnya, siswa yang takut maju didepan karena pernah mendapatkan ejekan dari teman-temannya sehingga siswa tersebut merasa trauma, siswa yang minder karena rendahnya masalah ekonomi keluarga sehingga berefek pada kesulitan siswa dalam bersosialisasi. Banyak faktor yang menyebabkan individu kurang dalam komunikasi interpersonal, diantaranya faktor malu mengemukakan pendapat kepada orang lain, kurang percaya diri ketika menyampaikan sesuatu.
              Salah satu upaya yang dilakukan dalam mengoptimalkan komunikasi interpersonal melalui layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik latihan asertif pada siswa yang dilakukan oleh guru pembimbing dan peneliti adalah dengan jalan penanganan masalah dengan melihat faktor penyebab kurangnya komunikasi interpersonal siswa dalam suatu layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik latihan asertif.
               
2.    Hipotesis Tindakan
              Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan, Sugiyono (2013:96). Dede Rahmat Hidayat & Aip Badrujaman (2012:35), “Hipotesis tindakan adalah jawaban sementara yang diajukan peneliti berkenaan dengan rumusan masalah yang dibuat”. 
                        Berdasarkan kerangka tindakan yang diuraikan di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “layanan bimbingan kelompok dengan teknik latihan asertif tepat untuk meningkatkan komunikasi interpersonal pada siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Swasta Mujahidin Pontianak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar