PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pendidikan
merupakan suatu kebutuhan yang harus
dipenuhi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maju mundurnya
suatu bangsa ditentukan oleh kreativitas pendidikan itu sendiri. Selain itu
pendidikan merupakan wadah yang dapat dipandang sebagai pembentuk sumber daya
manusia yang bermutu tinggi. Berbicara mengenai pendidikan maka kita akan
dihadapkan pada pembicaraan mengenai guru dan siswa yang tidak terpisahkan
bagaikan dua mata uang. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
mengajar, mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
peserta didik.
Sekolah
juga merupakan wadah mendidik, membimbing atau tempat latihan bagi siswa dalam
mempersiapkan diri dimasa yang akan datang sehingga diperlukan sesuatu yang
dapat membantu siswa mencapai tujuannya. Salah satu bagian dari pendidikan
adalah layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Bimbingan dan konseling
memiliki sembilan layanan dan salah satunya adalah layanan bimbingan kelompok.
Menurut Achmad Juntika Nurihsan (2006:23) bimbingan kelompok merupakan bantuan
terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok. bimbingan kelompok
dapat berupa penyampaian informasi ataupun aktivitas kelompok membahas
masalah-masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi dan sosial.
Layanan
bimbingan kelompok dapat dilaksanakan di berbagai kesempatan, salah satunya
adalah sekolah. Dalam proses pendidikan di sekolah banyak dijumpai permasalahan
yang dialami oleh siswa, terutama dalam melakukan komunikasi, baik yang
bersumber dari pribadi siswa sendiri ataupun lingkungan. Manusia adalah mahluk
sosial dan memerlukan hubungan dengan orang lain. Manusia ingin mendapatkan
perhatian di antara sesama kelompok. diperlukan serba hubungan dan
mempergunakan berbagai cara, alat, media, dan lain-lain. Komunikasi sangat
diperlukan dalam hubungan antar individu dikehidupan sehari-hari. Kerja sama
dan koordinasi yang baik akan tercapai saat komunikasi yang dibangun baik dan
hubungan yang harmonis akan tercapai saat komunikasi yang dibangun baik pula.
Menurut
A.W. Wijaya, (1998:68) Komunikasi yang tidak lancar disebabkan karena beberapa
hambatan. Hambatan-hambatan tersebut adalah kebisingan, keadaan psikologi
komunikan, kekurangan komunikator atau komunikan, kesalahan penilaian oleh
komunikator, kurangnya pengetahuan komunikator atau komunikan, bahasa, isi
pesan berlebihan, bersifat satu arah, faktor teknis, kepentingan atau interest,
prasangka, cara penyajian yang verbalistis, dan sebagainya
Komunikasilah
yang memungkinkan individu membangun suatu kerangka rujukan dan menggunakannya
sebagai panduan untuk menafsirkan situasi apapun yang ia hadapi. Orang yang
tidak pernah berkomunikasi dengan manusia bisa dipastikan akan “tersesat”
karena ia tidak sempat menata dirinya dalam suatu lingkungan sosial. Salah satu
dari banyaknya komunikasi adalah komunikasi interpersonal. Berbicara mengenai
komunikasi interpersonal banyak fenomena yang ada, diantaranya komunikasi
interpersonal kadang-kadang tidak dilaksanakan sesuai dengan fungsinya, seperti
komunikan kurang dapat melakukan komunikasi interpersonal karena mempunyai
konsep diri yang kurang baik. Arti dasar komunikasi merupakan proses
penyampaian informasi dari seorang komunikator kepada komunikan untuk
menyampaikan sesuatu (pesan) guna bertukar pikiran, dan penyampaian tujuan.
Di
dalam buku komunikasi interpersonal oleh Suranto AW (2011:30) dijelaskan bahwa
terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kadar hubungan interpersonal,
diantaranya toleransi, kesempatan-kesempatan yang seimbang. sikap menghargai
orang lain, sikap mendukung, bukan sikap bertahan, sikap terbuka, kepercayaan,
respon, suasana emosional. Banyak faktor penentu yang sangat menunjang
terbentuknya suatu komunikasi yang efektif antara komunikator dengan komunikan
khususnya dalam kegiatan belajar di sekolah. Layanan bimbingan kelompok sangat
penting dilakukan dalam meningkatkan komunikasi interpersonal antar siswa di sekolah
maupun di lingkungan masyarakat.
Komunikasi
interpersonal yang kurang ini terjadi dikarenakan siswa yang kurang tegas dalam
penyampaian pendapatnya, sehingga diperlukan teknik yang dapat membantu siswa
tersebut. Teknik yang cocok adalah teknik latihan asertif dimana siswa dilatih
untuk bersikap tegas sehingga tidak sulit dalam menyatakan diri bahwa
tindakannya adalah layak dan benar. Kesukaran-kesukaran komunikasi
interpersonal pada kehidupan pribadi
individu siswa agar tidak
membawa dampak yang kurang baik bagi kegiatan-kegiatan dalam meningkatkan
kemampuan berkomunikasinya, bimbingan dalam setiap usaha pendidikan kegiatan
bimbingan sangat diperlukan. Dalam hal ini seorang pembimbing bisa menggunakan
tindakan yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling, khususnya Penelitian
Tindakan, dalam Bimbingan dan Konseling (PTBK).
Penelitian
Tindakan merupakan salah satu strategi yang memanfaatkan tindakan nyata dan
proses pengembangan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam
praktiknya Penelitian tindakan menggabungkan rangkaian tindakan dengan
menggunakan prosedur penelitian. Maka dari itu penelitian tindakan dikatakan
sebagai upaya untuk memecahkan masalah sekaligus mencari dukungan ilmiah.
Sebagaimana dikemukakan Kemmis dan Mc. Taggart (1992) :
Action research in a from of
collective self reflective enquiry understaken by participants in social
situation in order to improve the rationality and justice of their own social
or educational practice, as well as their understanding of these practice and
the situation in which these practices are carried out.
Berdasarkan
uraian di atas mendorong keinginan peneliti sebagai peneliti untuk melaksanakan
penelitian yang berfokus pada kegiatan Penelitian Tindakan dalam Bimbingan dan
Konseling (PTBK) di Sekolah dalam upaya meningkatkan
komunikasi interpersonal siswa melalui
layanan bimbingan kelompok dengan teknik latihan asertif pada siswa. Peneliti beranggapan bahwa sekolah mampu
menyelenggarakan Penelitian Tindakan dalam Bimbingan dan Konseling (PTBK) khususnya
guru pembimbing melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik latihan asertif yang akan berdampak pada meningkatnya komunikasi interpersonal siswa.
Dari
kenyataan yang ada dilapangan berdasarkan observasi yang peneliti lakukan dan diperkuat oleh
informasi dari guru bimbingan dan konseling di Sekolah Menengah Pertama Swasta
Mujahidin Pontianak, terdapat siswa yang tidak memiliki tingkat komunikasi
interpersonal yang baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil data sosiometri yang
peniliti lakukan dan beberapa gejala yang tampak dilapangan diantaranya adalah
siswa yang gugup dan bingung serta malu-malu saat diajak berkomunikasi, siswa
yang sulit bergaul dan menutup diri bahkan siswa juga tidak tertarik, cuek
bahkan tidak memperhatikan lawan bicaranya. Adanya gejala tersebut menunjukan
bahwa kurangnya serta rendahnya kemampuan komunikasi interpersonal pada siswa.
Gambaran
yang diperoleh peneliti dari hasil observasi tersebut membuat peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Komunikasi
Interpersonal Siswa Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Latihan
Asertif Pada Siswa Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Swasta Mujahidin
Pontianak”
B. Rumusan
Masalah Penelitian
Secara
umum masalah dalam penelitian ini adalah :
“Bagaimana meningkatkan komunikasi interpersonal siswa melalui layanan
bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik latihan asertif pada siswa kelas
VIII Sekolah Menegah Pertama Swasta Mujahidin Pontianak?” Selanjutnya dirinci kedalam sub masalah penelitian
sebagai berikut :
1.
Bagaimanakah gambaran komunikasi
interpersonal pada siswa kelas VIII Di Sekolah Menengah Pertama Swasta
Mujahidin Pontianak?
2.
Bagaimana pelaksanaan
layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik latihan asertif untuk
meningkatkan komunikasi interpersonal siswa kelas VIII Di Sekolah Menengah
Pertama Swasta Mujahidin Pontianak?
3.
Apakah layanan bimbingan
kelompok dengan menggunakan teknik latihan asertif dapat meningkatkan
komunikasi interpersonal siswa kelas VIII Di Sekolah Menengah Pertama Swasta
Mujahidin Pontianak?
C. Tujuan
Penelitian
Secara
umum tujuan penelitian ini adalah untuk menngetahui Layanan
Bimbingan Kelompok Dengan Menggunakan Teknik Latihan Asertif tepat Untuk
Meningkatkan Komunikasi Interpersonal Pada Siswa Kelas VIII Sekolah Menegah
Pertama Swasta Mujahidin Pontianak.
Berdasarkan rumusan masalah penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui:
1.
Gambaran awal komunikasi
interpersonal pada siswa kelas VIII Di Sekolah Menengah Pertama Swasta
Mujahidin Pontianak
2.
Pelaksanaan layanan
bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik latihan asertif untuk meningkatkan
komunikasi interpersonal pada siswa kelas VIII Di Sekolah Menengah Pertama
Swasta Mujahidin Pontianak
3.
Layanan bimbingan
kelompok dengan menggunakan teknik latihan asertif dapat meningkatkan
komunikasi interpersonal pada siswa kelas VIII Di Sekolah Menengah Pertama
Swasta Mujahidin Pontianak
D. Manfaat
Penelitian
Hasil
informasi objektif yang diperoleh dalam penelitian ini, diharapkan dapat
memberikan manfaat baik yang bersifat teoritis maupun bersifat praktis sebagai
berikut:
1.
Manfaat Teoritis
Penelitian
ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan dan wawasan bimbingan dan
konseling khususnya meningkatkan komunikasi interpersonal melalui layanan
bimbingan kelompok pada siswa.
2.
Manfaat Praktis
a. Siswa
Hasil
penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian oleh siswa dalam memahami
pentingnya meningkatkan komunikasi interpersonal demi mengatasi permasalahan
yang sedang dialami siswa baik permasalahan dilingkungan sekolah maupun
lingkungan masyarakat
b. Guru Bimbingan dan Konseling
Hasil
penelitian ini dapat menjadi bahan masukan atau informasi bagi guru pembimbing
untuk meningkatkan komunikasi interpersonal melalui layanan bimbingan kelompok.
c.
Peneliti
Hasil
penelitian ini sebagai upaya bagi penenliti dalam peningkatkan ilmu pengetahuan
dalam program bimbingan dan konseling dan dapat melihat dilapangan terutama
dalam penggunaan layanan bimbingan kelompok
E. Ruang Lingkup
Penelitian
Guna membatasi dan memperjelas penelitian ini, agar
lebih jelas ruang lingkupnya maka pembahasan ini akan dibahas tentang fokus
penelitian dan definisi operasional, yaitu sebagai berikut :
1.
Variabel Penelitian
Variabel
merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam penelitian. Hamid Darmadi
(2011:14) menyatakan “Variabel adalah suatu atribut, nilai-nilai, sifat, dari
objek-objek, individu dan atau kegiatan yang ditentukan oleh peneliti untuk
dipelajari dan dicari informasinya serta ditarik kesimpulannya dalam suatu
penelitian”. Sugiyono (2014:56) juga mengatakan “Variebel penelitian adalah segala sesuatu yang
berbentuk apa saja yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari diperoleh informasi dan kemudian
ditarik kesimpulannya.
Dengan
demikian, variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informs
tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya
Terdapat
dua variabel yang digunakan dalam penelitian tindakan bimbingan dan konseling
(PTBK), yaitu variabel masalah dan variabel tindakan.
a. Variabel Masalah
Variabel
dalam penelitian adalah Komunikasi Interpersonal dengan aspek-aspek sebagai berikut :
1) Keterbukaan
(openess)
2) Empati
(empathy)
3) Dukungan
(suportiveness)
4) Kepositifan
(postiveness)
5) Kesetaraan
(equality) (Suranto Aw 2011: 83)
b. Variabel Tindakan
Variabel tindakan yang
digunakan pada penelitian ini adalah “Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik
Latihan Asertif” dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Identifikasi
Masalah
2) Analisis
Situasi
3) Dalam
Proses Latihan
4) Evaluasi
Hasil dan Tindak Lanjut
2.
Definisi Operasional
Definisi
operasional adalah penjelasan terhadap istilah dalam fokus penelitian, semuanya
itu dilakukan dalam upaya agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam pengertian
istilah yang dimaksudkan, adapun definisinya sebagai berikut :
a. Komunikasi
interpersonal
Komunikasi interpersonal dalam penelitian ini adalah
komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap
pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal
ataupun nonverbal, dengan aspek-aspek sebagai berikut:
1) Keterbukaan
(openness), yaitu memeberi informasi
mengenalkan diri, jujur, bertanggung jawab, dan tidak mengkambinghitamkan orang
lain.
2) Empati
(empathy), yaitu kemampuan untuk
merasakan apa yang dirasakan orang lain.
3) Dukungan
(suportiveness), yaitu lebih bersikap
deskriptif dalam berkomunikasi dibanding evaluatif
4) Kepositifan
(positiveness), yaitu komunikasi yang
berdasarkan sikap positif dan menghargai orang lain.
5) Kesamaan
(equality), yaitu pengakuan bahwa
kedua belah pihak memiliki kepentingan, sama-sama bernilai dan berharga dan
saling memerlukan
b. Teknik
latihan asertif
Teknik
latihan asertif dalam penelitian ini merupakan teknik dalam konseling
behavioral yang menitikberatkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam
perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya. Langkah-langkah latihan asertif
adalah sebagai berikut :
1) Identifikasi
Kasus, yaitu menganalisis permasalahn klien
2) Analisis
Situasi, yaitu menunjukkan kepada klien bahwa terdapat banyak alternatif dalam
mengatasi masalahnya
3) Dalam
Proses Latihan, yaitu memperhatikan hal-hal yang terkait dengan kontak mata,
postur tubuh, gerak isyarat, ekspresi wajah, suara, pilihan kalimat, tingkat
kecemasan, kesungguhan dan motivasinya
4) Evaluasi
Hasil dan Tindak Lanjut, yaitu melakukan evaluasi setelah klien melakukan tugas
yang diberikan dan melakukan tindak lanjut apabila evaluasi hasil gagal.
c. Layanan
bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok dalam penelitian ini adalah
proses layanan yang diberikan kepada individu dalam situasi kelompok dengan
memanfaatkan diskusi dan dinamika anggota kelompok, ditujukan untuk membantu
mencegah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan potensi siswa.
F.
Kerangka Tindakan dan Hipotesis Tindakan
1.
Kerangka Tindakan
Kerangka
tindakan adalah rencana tindakan yang disusun secara singkat untuk menjelakan
rencana penelitian tindakan yang dilakukan dari awal, proses pelaksanaan,
hingga akhir. Kerangka tindakan disusun dalam bentuk kalimat-kalimat atau
digambarkan sebagai alur rencana tindakan.
Sebelum
melakukan penelitian, hal pertama yang harus dilakukan peneliti adalah
melakukan observasi, kemudian peneliti menyiapkan pedoman observasi dan
melakukan pengamatan terhadap siswa Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Swasta Mujahidin
Pontianak. Dari hasil obseravi dapat
diketahui bahwa di Sekolah Menengah Pertama Swasta Mujahidin
Pontianak, khususnya kelas VIII masih terdapat beberapa gejala-gejala perilaku siswa
yang memiliki kemampaun komunikasi interpersonal yang kurang optimal contohnya, siswa
yang takut maju didepan karena pernah mendapatkan ejekan dari teman-temannya
sehingga siswa tersebut merasa trauma, siswa yang minder karena rendahnya
masalah ekonomi keluarga sehingga berefek pada kesulitan siswa dalam
bersosialisasi. Banyak faktor yang
menyebabkan individu kurang dalam komunikasi interpersonal, diantaranya faktor malu mengemukakan pendapat kepada
orang lain, kurang percaya diri ketika menyampaikan sesuatu.
Salah
satu upaya yang dilakukan dalam mengoptimalkan komunikasi
interpersonal melalui layanan bimbingan
kelompok dengan menggunakan teknik latihan
asertif pada siswa yang dilakukan oleh guru pembimbing dan
peneliti adalah dengan jalan penanganan masalah dengan melihat faktor penyebab
kurangnya komunikasi interpersonal siswa dalam suatu layanan
bimbingan kelompok dengan
menggunakan teknik latihan asertif.
2.
Hipotesis Tindakan
Hipotesis
merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan
masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan, Sugiyono
(2013:96). Dede Rahmat Hidayat & Aip Badrujaman
(2012:35), “Hipotesis tindakan adalah jawaban sementara yang diajukan peneliti
berkenaan dengan rumusan masalah yang dibuat”.
Berdasarkan kerangka
tindakan yang diuraikan di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini
adalah “layanan bimbingan kelompok dengan teknik latihan asertif tepat untuk meningkatkan komunikasi
interpersonal pada siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Swasta Mujahidin
Pontianak”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar