Minggu, 03 Desember 2017

UPAYA GURU DALAM PELAKSANAAN PENGELOLAAN KELAS UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
         Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan hal yang penting bagi suatu negara untuk menjadi negara maju, kuat, makmur dan sejahtera.Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak bisa terpisah dengan masalah pendidikan bangsa.Menurut Mulyasa (2006:3)“ Setidaknya terdapat tiga syarat utama yang harus diperhatikan dalam pembangunan pendidikan agar dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yakni: (1) sarana gedung (2) buku yang berkualitas (3) guru dan tenaga kependidikan yang yang profesional ”.
         Tanggungjawab pendidikan yang paling mendasar adalah mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang makin berperan dalam menampilkan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri dan profesional dalam bidangnya.Theo Riyanto (2002:46) mengatakanPendidikan merupakan proses tindakan bimbingan dan pertolongan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.Pendidikan mengusahakan pembinaan pribadi manusia sampai pada tujuan akhirnya yaitu kebahagiaan dan sekaligus berguna bagi masyarakat. Maka kegiatan pendidikan yang benar adalah pembinaan kepribadian manusia untuk mampu membina hubungan yang harmonis dengan Tuhan dan diri sendiri, serta sekaligus untuk kepentingan masyarakat, hubungan dengan keluarga, masyarakat, dan alam sekitar”.
          Tujuan Pendidikan tidak hanya sekedar memonitor peserta didik apakah mereka bertingkah laku seperti yang diajarkan pendidik atau tidak. Pendidikan yang efektif menuntut pendidik sebagai pribadi yang berfungsi optimal, mampu menciptakan relasi pribadi yang bersifat mendidik sehingga peserta didik mampu menumbuh kembangkan dirinya secara utuh . Agar tumbuh peserta didik yang tangguh dan mandiri , maka di perlukan sebuah sekolah yang berkualitas dengan guru yang profesional pula. Setiap guru atau wali kelas mempunyai tugas sebagai middle manager atau administrator kelas. Oleh karena itu guru memegang posisi dan peranan yang penting, karena memikul tanggung jawab mengembangkan dan memajukan kelas masing-masing, yang berpengaruh pada kemajuan dan perkembangan sekolah secara keseluruhan. Setiap siswa dan guru yang menjadi komponen penggerak aktivitas kelas harus didayagunakan secara maksimal agar sebagai satu kesatuan terarah dalam pencapaian tujuan sekolah. Dr. Martinis Yamin, M.Pd (2011:1) mengatakan “ Guru mengemban tugas utamanya adalah mendidik dan membimbing peserta didik untuk belajar mengembangkan dirinya”.
          Guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Di dalam kelas guru malaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Kegiatan mengajar pada hakikatnya adalah proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa. Semua komponen pengajaran yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.
          Pengelolaan kelas tidak hanya berupa pengaturan kelas, fasilitas fisik dan rutinitas. Kegiatan pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana dan kondisi kelas. Sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Misalnya memberi penguatan, mengembangkan hubungan guru dengan siswa dan membuat aturan kelompok yang produktif.
           Di kelaslah segala aspek pendidikan pengajaran bertemu dan berproses. Guru dengan segala kemampuannya, siswa dengan segala latar belakang dan sifat-sifat individualnya, Kurikulum dengan segala komponennya, dan materi serta sumber pelajaran dengan segala pokok bahasannya bertemu , berpadu dan berinteraksi di kelas. Bahkan hasil dari pendidikan dan pengajaran sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di kelas. Oleh sebab itu sudah selayaknyalah kelas dikelola dengan baik, profesional, dan harus terus-menerus.
           Pengelolaan kelas diperlukan karena dari hari ke hari bahkan dari waktu ke waktu tingkah laku dan perbuatan siswa selalu berubah. Hari ini siswa dapat belajar dengan baik dan tenang, tetapi besok belum tentu. Kemarin terjadi persaingan yang sehat dalam kelompok, sebaliknya dimasa mendatang boleh jadi persaingan itu kurang sehat. Kelas selalu dinamis dalam bentuk perilaku, perbuatan, sikap, mental, dan emosional siswa.
          Pengelolaan kelas dapat di artikan sebagai suatu usaha yang harus di lakukan oleh guru atau wali kelas dalam upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang optimal bagi berlangsungnya proses belajar mengajar dengan mendayagunakan kelas berupa guru, murid dan fasilitas secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Fathurrohman dan sutikno  (2007:104) mengatakan bahwa “ Pengelolaan kelas merupakan usaha yang dengan sengaja di lakukan oleh guru agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan pembelajaran”.
             Salah satu usaha guru dalam pengelolaan kelas adalah memberikan dorongan dan rangsangan terhadap anak didik untuk belajar. Oleh karena itu kelas harus dikelola dengan sebaik-baiknya oleh guru. Tanpa adanya pengelolaan kelas yang baik maka akan mudah terjadi suatu penyelewengan tindakan atau prilaku belajar siswa didalam kelas. Penyelewengan tersebut disebabkan oleh banyak hal , seperti kurangnya perhatian dalam belajar, kurang suka terhadap lingkungan belajar, kurangnya ketegasan dalam pelaksanaan disiplin, bosan, dan sebagainya.  
          Menurut Zainal Aqib (2002:83) bahwa “Guru adalah pemimpin dan penanggung jawab utama di kelasnya. Oleh karena itu yang terjadi di kelas dan yang berkaitan dengan siswa secara langsung atau tidak langsung menjadi tanggung jawab guru kelas”.
          Peran seorang guru pada pengelolaan kelas sangat penting khususnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik, aman dan  nyaman. Mulyasa (2007:91)mengatakan bahwa “Pengelolaan kelas merupakan ketrampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran”.
          Sebagaimana di kemukakan oleh Zuldafrial (2009:14) bahwa “Dalam kegiatan proses belajar mengajar di mana guru dapat menyampaikan  materi atau  bahan pelajaran dengan tenang dan penuh semangat, bergairah serta sadar akan tanggung jawabnya perlu suasana kelas yang harmonis “.
          Pengelolaan kelas yang efektif merupakan syarat mutlak bagi terciptanya  proses belajar-mengajar yang efektif pula, sehingga siswa menjadi termotivasi untuk belajar dengan baik dan mencapai hasil belajar yang optimal.
          Berdasarkan pendapat di atas, jelas betapa pentingnya pengelolaan kelas guna menciptakan suasana kelas yang kondusif demi meningkatkan kualitas pembelajaran. Pengelolaan kelas menjadi tugas dan tanggung jawab guru dengan memberdayakan segala potensi yang ada dalam kelas demi kelangsungan proses pembelajaran. Hal ini berarti setiap guru dituntut secara profesional mengelola kelas, sehingga tercipta suasana kelas yang kondusif mulai dari awal hingga akhir pembelajaran.Dengan pengelolaan kelas yang baik di harapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa , karena motivasi merupakan hal yang sangat penting artinya dalam kegiatan belajar mengajar.
          Menurut Radd dan Brophy (Dalam David A. Jacobsen, dkk, 2009: 39) bahwa “Keteraturan dan keamanan sangatlah penting untuk mendorong motivasi siswa. Pengelolaan kelas merupakan landasan yang di bangun guru dalam menciptakan kelas yang bersemangat (motivated )”.
           Motivasi belajar merupakan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang di kehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Zainal Aqib ( 2002 : 50 ) mengatakan “ Motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang di tandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan “. Di pertegas oleh Sardiman A.M (2010:2) bahwa “ Interaksi antara pengajar dengan warga belajar diharapkan merupakan proses motivasi. Maksudnya , bagaimana dalam proses interaksi itu pihak pengajar mampu memberikan dan mengembangkan motivasi serta reinforcement kepada pihak warga belajar/siswa/subjek didik, agar dapat melakukan kegiatan belajar secara optimal”.
           Dalam kegiatan belajar mengajar, apabila ada seorang siswa, misalnya tidak berbuat sesuatu yang seharusnya dikerjakan maka perlu di selidiki sebab-sebabnya. Sebab- sebab itu biasanya bermacam- macam, mungkin ia tidak senang, mungkin sakit, lapar atau ada problem pribadi. Hal ini berarti pada diri anak tidak terjadi perubahan energi, tidak terangsang  afeksinya untuk melakukan sesuatu, karena tidak memiliki tujuan atau kebutuhan belajar. Dalam keadaan semacam ini perlu dilakukan suatu usaha yang dapat menemukan penyebabnya, kemudian mendorong siswa itu untuk mau melakukan pekerjaan yag seharusnya di lakukan, yakni belajar. Dengan kata lain, siswa perlu di berikan rangsangan agar tumbuh motivasi pada dirinya. Sardiman A. M ( 2003:75 ) mengatakan “ Peranan motivasi yang khas adalah  dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar “.
          Hasil belajar akan optimal kalau  guru selalu memberikan  motivasi yang baik kepada siswa. Berkaitan dengan hal ini, maka kegagalan belajar siswa atau kurang bersemangatnya siswa dalam belajar jangan begitu saja mempersalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberikan motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan gairah siswa untuk berbuat atau  belajar. Jadi dalam hal ini bagaimana tugas guru bisa mendorong para siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi belajar yang lebih baik, dengan cara guru melaksanakan pengelolaan kelas yang baik .
          Guru yang melaksanakan pengelolaan kelas dengan baik  dan menyadari tanggung jawabnya tidak hanya sekedar mengajar saja,sudah barang tentu para siswa yang di ajarnya akan lebih bersemangat dan menyenangi pelajaran yang di sampaikan oleh guru tersebut.
Namun kenyataan  yang ada di lapangan justru berbeda dengan harapan di atas. Hal tersebut dapat dilihat dengan  masih adanya  siswa yang tidak bersemangat di dalam mengikuti proses pembelajaran Bahasa Arab di dalam kelas dan masih banyak siswa yang memperoleh nilai yang kurang memuaskan dalam mata pelajaran tersebut.
Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang  upaya guru dalam pelaksanaan pengelolaan kelas untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas V SDIT Al-Mumtaz Pontianak. Adapun dasar pemikiran penelitian dilaksanakan di SDIT Al-Mumtaz Pontianak adalah :
1.      SDIT Al-Mumtaz Pontianak merupakan salah satu sekolah favorit yang di minati masyarakat.
2.      Kualitas lulusan siswa SDIT Al-Mumtaz sangat baik dibandingkan beberapa sekolah yang ada di wilayah Pontianak Kota, baik dari nilai akademik maupun dari prilaku siswanya.
3.      Adanya integrasi antara kurikulum Pendidikan Nasional dengan kurikulum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT ) serta program sekolah sendiri, yang semakin memperkaya kualitas pendidikan di sekolah tersebut.
4.      SDIT Al-Mumtaz adalah sebuah sekolah Dasar Islam Terpadu yang menerapkan kurikulum pengajaran umum maupun program agama di sekolah. Dengan konsep belajar Full Day School (Belajar dari  pukul  07.00 -14.30 WIB ) yang memungkinkan siswa belajar dalam waktu yang cukup lama di dalam kelas.
            Dua alasan penelitian ini lebih di fokuskan pada mata pelajaran Bahasa Arab karena berdasarkan hasil prasurvey peneliti terhadap walikelas VA dan V B  SDIT Al-Mumtaz Pontianak (tanggal 19 April dan 21 April 2011) di peroleh informasi ,bahwa sebagian besar siswa kelas V A dan V B masih kurang memiliki motivasi belajar, khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Arab. Informasi ini didukung dengan melihat hasil belajar Bahasa Arab siswa yang sebagian besar belum memuaskan atau masih di bawah rata- rata dibandingkan dengan hasil belajar mata pelajaran lainnya serta sesuai dengan salah satu misi sekolah yaitu mengharapkan para siswa dapat berbicara menggunakan Bahasa Arab secara aktif dan pasif di dalam lingkungan sekolah.

      B. Masalah Penelitian
         Masalah umum dalam penelitian ini adalah “ Bagaimana  upaya  guru dalam melaksanakan pengelolaan kelas untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas V SDIT Al- Mumtaz Pontianak “.
Sedangkan sub masalah dalam penelitian ini  adalah :
            1. Apa saja kegiatan yang di lakukan guru dalam pengelolaan kelas siswa                 kelas V SDIT Al- Mumtaz  Pontianak ?
             2. Apa upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa Kelas V                     SDIT Al- Mumtaz  Pontianak ?
            3. Apa saja faktor pendukung dalam pelaksanaan pengelolaan kelas pada                   siswa kelas V SDIT Al- Mumtaz  Pontianak ?
            4. Apa hambatan yang di hadapi guru dalam pelaksanaan     pengelolaan                     kelas siswa kelas V SDIT Al- Mumtaz  Pontianak ?
            5. Apa saja upaya yang di lakukan guru dalam mengatasi hambatan  pada                  Pelaksanaan pengelolaan kelas untuk meningkatkan motivasi belajar                       siswa kelas V SDIT Al- Mumtaz Pontianak ?

        C. Tujuan Penelitian
            Berdasarkan uraian pada masalah dan sub masalah di atas, maka tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mendapatkan informasi yang jelas dan objektif mengenai upaya guru dalam pelaksanaan pengelolaan kelas dengan motivasi belajar siswa kelas V SDIT Al- Mumtaz Pontianak.
            Bertitik tolak dari masalah dan sub masalah yang telah di rumuskan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi yang jelas dan objektif  mengenai :
1.      Kegiatan yang di lakukan guru dalam pengelolaan kelas siswa kelas V SDIT Al- Mumtaz  Pontianak.
2.      Kegiatan yang di lakukan guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas V SDIT  Al- Mumtaz  Pontianak.
3.      Faktor pendukung dalam pelaksanaan pengelolaan kelas pada siswa Kelas V SDIT Al- Mumtaz  Pontianak.
4.      Hambatan yang di hadapi guru dalam pelaksanaan pengelolaan kelas Kelas V SDIT Al- Mumtaz  Pontianak.
5.      Upaya yang dilakukan guru dalam mengatasi hambatan pada                                                                                                           Pelaksanaan pengelolaan kelas untuk meningkatkan motivasi belajar Siswa kelas V SDIT Al- Mumtaz Pontianak.
      (Sri Esti Djiwandono, 2008:262)

       D. Manfaat Penelitian
            Data dan informasi yang di peroleh dari hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan manfaat, khususnya untuk guru atau wali kelas serta pihak sekolah di dalam melaksanakan proses belajar mengajar, baik manfaat yang bersifat praktis maupun teoritis.
1.       Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan wawasan keilmuan bagi semua pihak yang terlibat dalam proses belajar mengajar di sekolah, khususnya berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan kelas  yang efektif.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi Siswa
Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan motivasi                bagi siswa untuk selalu aktif dalam proses belajar dan terlibat dalam pelaksanaan pengelolaan kelas yang di lakukan oleh guru, guna mencapai   hasil belajar yang lebih baik.     
b.      Bagi Guru
Hasil penelitian ini di harapkan dapat menjadi masukan dan menambah wawasan buat guru tentang tujuan dan cara pelaksanaan pengelolaan kelas yang efektif di dalam kelas serta dapat  mengaplikasikan pengelolaan kelas tersebut .           
c.       Bagi Kepala Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan buat Kepala Sekolah  dalarangka pembuatan kebijakan maupun penyediaan fasilitas sekolah yang harus di persiapkan yang menjadi faktor pendukung bagi guru dalam menjalankan tugasnya yaitu mengajar dan melaksanakan pengelolaan kelas .
d.      Bagi Orangtua
 Diharapkan dapat membantu pihak sekolah untuk memotivasi dan  melakukan pembinaan terhadap putra-putrinya di rumah untuk belajar lebih baik.

       E. Ruang Lingkup Penelitian
            Guna menjaga penelitian agar tetap terfokus pada masalah yang menjadi pengamatan dalam penelitian, maka perlu di perjelas dan dipertegas lingkup penelitian yang meliputi variabel- variabel dan definisi operasional , sebagai berikut :
       1. Variabel penelitian
            Variabel dapat di artikan sebagai suatu konsep yang memiliki nilai ganda atau dengan kata lain suatu faktor yang di ukur akan menghasilkan skor bervariasi dan merupakan gejala yang menjadi objek penelitian.
            Arikunto (2002:96) mengemukakan bahwa “ Variabel adalah objek penelitian atau apa saja yang menjadi perhatian pengamatan dalam suatu penelitian“. Sedangkan menurut Sumadi Suryabrata (2002:72) menyatakan bahwa “Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengalaman penelitian”.
            Berdasarkan kedua pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa variabel adalah gejala- gejala atau objek yang bervariasi yang menjadi pengamatan dan sasaran dalam suatu penelitian.
            Dalam penelitian ini hanya ada satu variabel penelitian, yaitu Upaya guru dalam pelaksanaan pengelolaan kelas untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas V SDIT Al- Mumtaz Pontianak, dengan aspek- aspek sebagai berikut :
a)      Kegiatan yang di lakukan guru dalam pengelolaan kelas siswa kelas V SDIT Al- Mumtaz Pontianak, dengan indikator :
1)      Pengaturan tempat duduk siswa di dalam kelas.
2)      Penataan keindahan dan kebersihan kelas.
3)      Mengembangkan pengorganisasian kelas yang menarik dan nyaman bagi siswa.
4)      Memberikan tugas-tugas belajar kepada siswa sesuai dengan batas- batas kemampuannya.
5)      Memberikan penguatan (Reinforcement) terhadap tugas yang dikerjakan oleh siswa.
b)      Upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas V SDIT Al- Mumtaz Pontianak, dengan indikator :
1)      Menjelaskan tujuan belajar kepada siswa.
2)      Mengadakan persaingan atau kompetisi yang sehat di antara siswa.
3)      Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
4)      Membantu kesulitan belajar siswa.
5)      Menggunakan metode pembelajaran yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
c)      Faktor pendukung dalam pelaksanaan pengelolaan kelas siswa kelas V SDIT Al- Mumtaz Pontianak, dengan indikator :
1)      Waktu atau jam pelaksanaan pembelajaran yang tepat.
2)      Menciptakan suasanan belajar yang hangat, bersahabat, mempunyai perasaan humor dan terhindar dari celaan atau makian.
3)      Memberikan sasaran antara, seperti kuis, ulangan harian dan ulangan semester.
4)      Menciptakan perasaan yang saling menyenangi antara siswa di kelas maupun antar guru dengan siswa.
5)      Fasilitas belajar yang cukup.
d)      Hambatan yang di hadapi guru dalam pelaksanaan pengelolaan kelas siswa kelas V SDIT Al- Mumtaz Pontianak, dengan indikator:     
1)      Keterbatasan pemahaman guru tentang tujuan dan cara pengelolaan kelas yang efektif.
2)      Kurangnya usaha guru dalam memahami karakter dan latar belakang siswa.
3)      Kepribadian guru yang kurang menyenangkan dan tidak bersikap hangat terhadap siswa.
4)      Tipe kepemimpinan guru yang otoriter dan tidak bersikap demokratis terhadap siswa.
5)      Format pembelajaran yang monoton dan menimbulkan kebosanan bagi siswa.
6)      Kurangnya pemahaman siswa tentang hak dan kewajibannya sebagai anggota kelas.
7)      Kondisi fisik siswa yang kurang sehat sewaktu pembelajaran berlangsung.
8)      Kondisi interaksi antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dengan guru.
9)      Terlalu banyaknya atau terlalu sedikitnya jumlah siswa dalam suatu kelas.
10)  Ukuran ruang kelas tidak sebanding dengan jumlah siswa di dalam kelas.
11)  Kurangnya jumlah buku dan alat pengajaran lainnya yang tidak sesuai dengan jumlah siswa yang membutuhkan.
12)  Sikap otoriter orangtua kepada anak yang berdampak pada timbulnya tingkah laku siswa yang agresif dan apatis.
13)  Kurangnya perhatian orangtua terhadap anak di rumah.
14)  Adanya kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik di dalam lingkungan keluarga yang menyebabkan siswa menjadi tidak disiplin di kelas.
e)      Upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengatasi hambatan pada pelaksanaan pengelolaan kelas, dengan indikator :
1)      Guru memperhatikan tipe kepemimpinan, sikap, suara dan pembinaan report.
2)      Guru mengupayakan situasi dan kondisi pembelajaran yang optimal.
3)      Menegakkan disiplin dan tata tertib kelas agar semua kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
4)      Bila terdapat siswa yang melakukan tindakan mengganggu kelas guru melakukan tindakan bukan ceramah.
5)      Guru menyatakan peraturan di dalam kelas serta konsekuensinya terhadap siswa yang tidak mentaati peraturan tersebut.
6)      Guru memberikan penguatan verbal (seperti kata-kata : Baik, Bagus, Hebat) terhadap siswa yang melaksanakan pembelajaran dengan baik.
7)      Guru memberikan penguatan dalam bentuk kegiatan (seperti kegiatan :diberi waktu istirahat lebih) kepada siswa yang mengerjakan tugas dengan baik.
8)      Guru menerangkan pelajaran kepada siswa secara jelas dan mendalam.
9)      Guru memberikan perhatian yang cukup terhadap siswa pada saat proses pembelajaran.
10)  Guru membentuk kelompok belajar siswa di dalam kelas berdasarkan tempat tinggal, kemampuan siswa dalam belajar dan sifat-sifat lain yang dimiliki oleh siswa.
            2. Defenisi Operasional
         Untuk memperjelas variabel dan aspek-aspeknya yang akan diteliti atau yang akan menjadi fokus penelitian, berikut ini akan dijelaskan defenisi operasionalnya, yaitu :
a.       Upaya guru adalah suatu usaha atau ikhtiar yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suatu kondisi dengan suatu tujuan tertentu.
b.      Pengelolaan kelas adalah upaya menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang optimal bagi berlangsungnya proses belajar mengajar dengan mendayagunakan kelas yang terdiri dari guru, murid, dan fasilitas secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
c.       Upaya guru dalam pelaksanaan pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang di lakukan oleh guru khususnya guru Bahasa Arab untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang optimal bagi berlangsungnya proses belajar mengajar dengan mendayagunakan kelas yang terdiri dari guru, siswa dan fasilitas secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
d.      Kegiatan yang di lakukan guru dalam pengelolaan kelas adalah  kegiatan yang di lakukan oleh guru Bahasa Arab untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan, mengulang atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan melalui beberapa bentuk kegiatan di dalam kelas, seperti pengaturan tempat duduk siswa di dalam kelas, penataan keindahan dan kebersihan kelas, mengembangkan pengorganisasian kelas yang menarik dan nyaman bagi siswa, dan sebagainya.
e.       Upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa adalah usaha yang di lakukan oleh guru Bahasa Arab  untuk memberikan dorongan baik internal maupun eksternal pada para siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku dengan beberapa indikator dan unsur yang mendukung melalui pelaksanaan pengelolaan kelas, seperti menjelaskan tujuan belajar kepada siswa, mengadakan kompetisi sehat di antara siswa, membentuk kebiasaan belajar yang baik ,dan sebagainya.
f.        Faktor pendukung dalam pelaksanaan pengelolaan kelas adalah
berbagai faktor yang dapat mendukung terlaksananya pengelolaan kelas dengan optimal , baik faktor internal siswa maupun eksternal siswa, seperti waktu atau jam pelaksanaan pembelajaran yang tepat, menciptakan suasana belajar yang hangat dan bersahabat, memberikan sasaran antara, dan sebagainya.
g.      Hambatan yang di hadapi guru dalam pelaksanaan pengelolaan kelas adalah kendala­­-kendala yang di hadapi guru dan menjadi penghambat terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan efisien, baik kendala yang bersifat internal yang berasal dari diri guru sendiri maupun kendala eksternal yang berasala dari siswa, sekolah dan orangtua atau keluarga, seperti keterbatasan pemahaman guru tentang tujuan dan cara pengelolaan kelas, kepribadian guru yang kurang menyenangkan, kondisi fisik siswa yang kurang sehat sewaktu pembelajaran berlangsung, ukuran ruang kelas yang tidak sebanding dengan jumlah siswa di dalam kelas, kurangnya perhatian orangtua terhadap anak di rumah, dan sebagainya.           

h.      Upaya yang dilakukan guru dalam mengatasi hambatan pada pelaksanaan pengelolaan kelas adalah usaha-usaha yang di lakukan oleh guru Bahasa Arab dalam mengatasi hambatan atau kendala    yang ditemui dalam pelaksanaan pengelolaan kelas, seperti guru memberikan penguatan verbal kepada siswa, guru memperhatikan tipe kepemimpinannya dikelas, sikap, suara serta pembinaan report, dan sebagainya.

LAYANAN PEMBELAJARAN OLEH GURU PEMBIMBING UNTUK MENGEMBANGKAN GAYA BELAJAR


BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia, di antaranya adalah melalui jalur pendidikan formal. Pendidikan itu mutlak di perlukan manusia dalam pengembangan diri untuk mencapai status manusia seutuhnya. Peningkatan mutu pendidikan dengan adanya perubahan sikap (afektif), perubahan pengetahuan (kognitif), dan perubahan kognitif (psikomotorik) pada diri siswa yang dulunya terbatas sekarang menjadi berkembang.
Sekolah Menengah Pertama (SMP) mempersiapkan peserta didiknya untuk melanjutkan pendidikan ke pendidikan menengah (baik umum maupun kejuruan). Depdikbud. (1995 :3). “Isi kurikulum SMP merupakan susunan bahan kajian dan pelajaran yang memuat materi tentang ideologi (pendidikan umum), pengetahuan (pendidiakn akademis), dan keterampilan”
Pendidikan di SMP bertujuan untuk memberi bekal kemampuan dasar sebagai perluasan pengetahuan yang diperoleh di SD, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Sekolah sebagai salah satu proses pembelajaran secara formal dituntut untuk melaksanakan proses belajar secara optimal utnuk melahirkan anak didik yang berkualitas. Anak didik yang berkualitas ini adalah berasal dari anak-anak yang mempunyai prestasi belajar yang baik di sekolah, dan merupakan tujuan pendidikan yang utama, SMP merupakan salah satu jenis pendidikan yang di dirikan pemerintah maupun swasta guna mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan pendidikan dasar. Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 1990. Pasal 2 mengenai tujuan pendidikan pada jenjang pendidikan menengah dan sekolah menengah atas menyatakan bahwa pendidikan menengah bertujuan :
1.    Meningkatkan pengetahuan siswa untuk pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
2.    Meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial budaya dan alam sekitar.

Tujuan pendidikan menurut peraturan pemerintah adalah meningkatkan pengetahuan guna melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, pengembangan diri serta meningkatkan kemampuan dalam berinteraksi dengan lingkungan masyarakat. Salah satu pendidikan di sekolah yang memiliki peranan penting bagi peserta didik adalah proses belajar. Proses belajar yang baik hendaknya di lakukan dengan rajin dan tekun, belajar merupakan usaha sadar  yang di lakukan individu/kelompok untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan dalam interaksi dengan lingkungan. Perubahan tingkah laku dari proses belajar diharapkan memberikan dampak positif bagi peserta didik.
Prestasi belajar seorang anak bukan semata-mata dari anak itu sendiri melainkan  lingkungan yang sangat mempengaruhi berhasil atau tidaknya seorang anak dalam belajar. Lingkungan yang di maksud bukan hanya teman bermain atau keluarga, tetapi lingkungan  dalam  arti  luas yaitu semua keadaan di luar diri anak. Setiap anak mempunyai lingkungan  yang di hadapkan pada serangkaian tugas-tugas perkembangan yang harus di selesaikan dengan baik agar dapat memperlancar pelaksanaan tugas-tugas pada fase berikutnya.
Menurut Robert J. Hauighurt  (dalam Dadang Sulaeman 1995 : 13) bahwa: “Tugas-tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan individu yang jika berhasil akan memunculkan fase bahagia dan membawa kearah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya, akan tetapi jika gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya”. maka dapat di simpulkan bahwa seorang individu dalam perkembangannya sebagai remaja akan mencapai fase-fase sebagai remaja apa lagi usia SMP adalah dimana seseorang individu dalam tahaf remja awal, disanalah titik tolak seseorang mampu melewati tugas perkembangan atau tidak.
Pelayanan bimbingan dan konseling di SMP meliputi bidang bimbingan pribadi, bidang bimbingan sosial, bidang bimbingan belajar, dan bidang bimbingan karier. Salah satu bidang bimbingan membantu siswa mengembangan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar baik untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan  serta menyiapkan melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi adalah bidang bimbingan belajar.
Bimbingan belajar adalah proses dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, dalam memilih program studi yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukaran-kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar disuatu institusi pendidikan (Depdikbud, 1995 : 26).
Dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan belajar adalah suatu bantuan yang diberikan pada siswa untuk mengatasi masalah-masalah dalam belajar sehingga mendapatkan hasil yang baik. Layanan bimbingan dan konseling meliputi layanan orientasi, layanan pembelajaran, layanan penempatan dan penyaluran, layanan konseling individu, layanan konseling kelompok,  layanan bimbingan kelompok, dan layanan informasi, layanan mediasi dan layanan konsultasi. Salah satu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan siswa mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan belajar lainnya.
Tujuan dari layanan pembelajaran bidang bimbingan belajar adalah agar siswa mampu menguasai pengetahuan dan dapat mengembangkan keterampilan yang diperoleh dari sekolah, sehingga dengan di berikannya layanan pembelajaran bidang bimbingan belajar maka di harapkan siswa termotivasi dalam mencapai prestasi yang optimal dan mampu menerapkan ilmu pengetahuan yang telah dilakukan di sekolah.
Pengenalan gaya belajar sangat penting, baik bagi siswa maupun guru dengan mengenal gaya belajar siswa akan mengetahui model belajar yang ia miliki, sehingga ia dapat belajar dengan baik, bagi  guru dengan mengenal gaya belajar siswa maka dapat menerapkan teknik dan strategi yang tepat baik dalam pembelajaran maupun dalam pengembangan diri yang berkaitan dengan cara-cara belajar melalu gaya belajar ini. Hanya dengan penerapan gaya belajar yang sesuai maka tingkat keberhasilannya dalam belajar lebih tinggi, seseorang siswa juga harus memahami gaya belajarnya, dengan demikian ia telah memiliki kemampuan mengenal dirinya yang lebih baik dan mengetahui kebutuhannya. Dengan pengenalan gaya belajar oleh guru akan dapat memberikan pelayanan yang tepat terhadap apa dan bagaimana sebaiknya di sediakan dan di lakukan agar pembelajaran dapat berlangsung optimal.
“Gaya belajar dapat di definisikan sebagai cara seseorang dalam menerima hasil belajar dengan tingkat penerimaan yang optimal dibandingkan dengan cara yang lain. Setiap orang memiliki gaya belajar masing-masing”(http://meylina:naini.biogspot.com/2010/05/jenis-jenis-gaya belajar.html).
Berdasarkan ungkapan di atas, pihak sekolah swasta, negeri baik yang di kota maupun di desa, harus memberikan layanan pembelajaran sehingga siswa dapat memperoleh keterampilan dan mengembangkan belajar dengan baik. Meskipun demikian masih banyak permasalahan yang di hadapi siswa yang berkenaan dengan kebiasaan belajarnya yang tergolong masih belum efektif, misalnya belajar asal belajar, belajar tanpa persiapan, pasif akan kegiatan kelas, baru belajar pada saat akan ujian atau ulangan saja, serta tidak mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. Hal ini dapat ditujukan oleh perbedaan nilai prestasi masing-masing siswa, ada yang diatas rata-rata kelas, bahkan ada yang yang di bawah rata-rata kelas.
Kenyataan di atas mendorong peneliti untuk memberikan layanan pembelajaran bidang bimbingan belajar guna membuktikan efektivitas layanan pembelajaran di bidang bimbingan belajar dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Layanan pembelajaran di berikan kepada siswa agar dapat membantu siswa mengembangkan gaya  belajar  yang baik untuk mengenal pengetahuan dan keterampilan serta menyiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi yaitu Sekolah Menengah Atas.
Berdasarkan pra survei yang dilakukan  di SMP Muhammadiyah 2 Pontianak, masih ditemukan kenyataannya  dilapangan berbeda dengan harapan di atas. diantara hal tersebut dapat dilihat masih ada siswa yang belum mampu mengembangkan gaya belajar  yang baik, sehingga masih banyak siswa tidak bisa mengetahui cara belajar yang ia miliki yang berakibat kesulitannya siswa tersebut dalam mencapai prestasi belajar yang optimal, contohnya siswa yang belajar pasif yaitu tidak kreatif dalam belajar misalnya tidak mau mencatat, mendengarkan guru menjelaskan atau bahkan bertanya kepada teman ataupun guru, belajar hanya saat diperintahkan oleh guru ataupun saat dibeikan tugas serta saat akan menghadapi ulangan saja.
Berdasarkan  kenyataan yang  di temukan, peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian terhadap pengembangan gaya belajar lewat layanan pembelajaran di SMP Muhammadiyah 2 Pontianak. ketertarikan penulis juga dikarenakan sekolah tersebut adalah salah satu sekolah yang memiliki potensi untuk berkembang dengan lebih baik, baik itu secara akademik maupun non akademik, karena mengingat sekolah terletak di tengah kota yang tentunya  memiliki bermacam-macam kultur budaya yang berbeda sehingga menjadikan situasi yang heterogen dalam perkembangannya baik secara positif maupun negatif.
B.     Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Layanan Pembelajaran oleh guru pembimbing untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 2 Pontianak ?”.
Masalah umum tersebut di atas di jabarkan menjadi beberapa sub masalah yaitu :
1.      Bagaimana langkah-langkah kegiatan guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 2 Pontianak ?
2.      Bagaimana bentuk-bentuk layanan pembelajaran oleh guru pembimbing dalam mengembangkan gaya belajar pada siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 2 Pontianak ?
3.      Bagaimana materi yang di sampaikan guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 2 Pontianak ?
4.      Bagaimana metode yang digunakan guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 2 Pontianak ?
5.      Bagaimana hambatan yang di hadapi guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 2 Pontianak ?
6.      Bagaiman upaya yang dilakukan guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa kelas IX  SMP Muhammadiyah 2 Pontianak ?
C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan sub masalah tersebut di atas maka tujuan penelitian untuk mendapatkan informasi secara jelas tentang “Bagaimana layanan pembelajaran oleh guru pembimbing untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 2 Pontianak.” Secara khusus penelitian ini bertujuan mengetahui :
1.      Langkah-langkah kegiatan guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 2 Pontianak.
2.      Bentuk layanan pembelajaran oleh guru pembimbing dalam untuk mengebangkan gaya belajar pada siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 2 Pontianak.
3.      Materi apa saja yang di sampaikan guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 2 Pontianak.
4.      Metode yang di gunakan guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk menegmbangkan gaya belajar  pada siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 2 Pontianak.
5.      Hambatan yang di hadapi guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk menegmbangkan gaya belajar pada siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 2 Pontianak.
6.      Upaya yang di lakukan guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengebangkan gaya belajar pada siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 2 Pontianak.
D.    Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan layanan bimbingan dan konseling yang berfungsi untuk mengembangkan gaya belajar
2.      Manfaat praktis bagi :
a.       Siswa
Hasil penelitian ini di harapkan bermanfaat bagi siswa yang belum dapat mengembangkan gaya belajarnya, dengan layanan pembelajaran ini, siswa di harapkan mampu mengembangkan gaya belajar dengan baik.

b.      Guru pembimbing
Hasil penelitian ini dapat di jadikan bahan masukan serta mengupayakan solusi berupa evaluasi dan motivasi belajar terhadap permasalahan tentang gaya belajar yang di hadap oleh siswa.
c.       Guru mata pelajaran
Hasil penelitian ini dapat di jadikan sumber referensi dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
d.      Orang tua
Hasil penelitian dapat memberikan motivasi untuk lebih meningkatkan pengawasan, bimbingan serta usaha pendekatan personal pada anak agar gaya belajar anaknya dapat diketahui sebaik mungkin
e.       Kepala Sekolah
1.  Agar di jadikan sumber referensi untuk meningkatkan kinerja bimbingan dan konseling di sekolah dalam dalam usaha untuk meningkatkan potensi siswa.
2.  Dijadikan bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas sekolah terutama bagi kebijakan yang akan diambil oleh kepala sekolah untuk meningkatkan bimbingan dan konseling.

E.     Ruang Lingkup Penelitian
1.      Variabel Penelitian
Variabel dapat di artikan sebagai suatu konsep yang memiliki nilai ganda, atau dengan kata lain suatu faktor yang diukur dengan menghasilkan skor yang bervariasi dan merupakan gejala yang menjadi objek penelitian.
Menurut Suharsimi Arikunto (1991 : 91) mengatakan “Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik penelitian”. Sedangkan menurut Hadari Nawawi (1985 : 50) mengatakan “Variabel adalah sejumlah gejala atau fakta (unsur) yang menentukan atau mempengaruhi ada atau munculnya gejala, faktor atau unsur lain, yang pada gilirannya gejala atau faktor atau unsur yang kedua disebut variabel.”
Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi pengamatan penelitian dan di uji kebenarannyan secara empirik. Adapun variabel dalam penelitian ini adalah “Layanan pembelajaran oleh guru pembimbing untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa.” Dengan aspek-aspek sebagai berikut :
1.      Langkah-langkah kegiatan guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa, dengan indikator :
a.       Perencanaan kegiatan layanan
b.      Pelaksanaan kegiatan layanan
c.       Evaluasi kegiatan layanan
d.       Tindak lanjut kegiatan layanan
2.      Bentuk kegiatan guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa, dengan indikator :
a.       Pertemuan klasikal
b.      Pertemuan kelompok
c.       Pertemuan individu
3.      Materi yang di sampaikan guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa, dengan indikator :
a.       Pemahaman diri
b.      Mengenal dan Memahami Gaya Belajar
c.       Pengembangan Sikap dan Kebiasaan Belajar yang Baik
4.      Metode yang di gunakan guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa, dengan indikator :
a.       Metode ceramah
b.      Metode tanya jawab
c.       Metode diskusi
5.      Hambatan yang di hadapi guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa, dengan indikator :
a.       Hambatan internal
b.      Hambatan eksternal
                                      
6.      Upaya yang di lakukan guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar pada siswa, dengan indikator :
a.       Mengatasi hambatan internal
b.      Mengatasi hambatan eksternal
2.      Defenisi Operasional
Dalam penelitian ini ada beberapa istilah dalam variabel yang di pergunakan, istilah itu perlu di berikan defenisi agar tidak terjadi kesalahan ketika menelaah penelitian ini. Adapun istilah yang perlu diberikan defenisi secara operasional adalah sebagai berikut :
a.       Layanan pembelajaran dalam penelitian ini adalah layanan yang di berikan guru pembimbing kepada siswa untuk dapat mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik.
b.      Gaya belajar siswa dalam penelitian ini adalah mengoptimalkan cara belajar siswa agar sesuai dengan keadaan siswa itu sendiri adapun gaya belajar itu adalah gaya belajar visual (penglihatan), gaya belajar auditorial (pendengaran), gaya belajar kinestetik ( gerakan ), sehingga cara belajar yang siswa terapkan bermanfaat.
c.       Langkah-langkah kegiatan guru pembimbing dalam meningkatkan gaya belajar siswa yaitu tahap-tahap yang dilakukan oleh guru pembimbing dalam pelaksanaan layanan pembelajaran untuk
mengembangkan gaya belajar siswa, langkah-langkah ini meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut.
d.      Bentuk kegiatan guru pembimbing dalam meningkatkan gaya belajar siswa dalam penelitian ini yaitu aktivitas-aktivitas yang di lakukan oleh guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar siswa, kegiatan ini meliputi: pertemuan klasik, layanan kelompok, layanan individu.
e.         Materi dalam meningkatkan gaya belajar siswa yang di sampaikan dalam penelitian ini adalah bahan-bahan yang di sampaikan guru pembimbing dalam layanan pemebelajaran untuk mengembangkan gaya belajar siswa, materi yang perlu di sampaikan antara lain, pemahaman diri, mengenal dan memahami gaya belajar, pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik
f.          Metode dalam meningkatkan gaya belajar siswa adalah cara, teknik, maupun strategi yang digunakan oleh guru pembimbing dalam pelaksanaan layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar. Metode yang dapat digunakan meliputi : metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi.
g.        Hambatan guru pembimbing dalam meningkatkan gaya belajar siswa yang di maksudkan adalah kendala-kendala yang di hadapi oleh guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar. Kendala-kendala tersebut dapat berupa hambatan internal dan hambatan eksternal

h.        Upaya yang di maksudkan dalam penelitian ini adalah usaha-usaha yang di tempuh untuk mengatasi hambatan yang di temukan oleh guru pembimbing dalam layanan pembelajaran untuk mengembangkan gaya belajar, upaya tersebut adalah untuk mengatasi hambatan internal, dan hambatan eksternal.