Minggu, 03 Desember 2017

IMPLENTASI LAYANAN PENGUASAAN KONTEN DENGAN METODE DISKUSI UNTUK MENINGKATKAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL

BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu sektor yang paling penting dalam pembangunan nasional. Hal ini dikarenakan melalui sektor pendidikan dapat dibentuk manusia yang berkualitas, seperti yang disebutkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak seperti peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
 “Pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani ( pikiran, karsa, rasa, cipta dan budi nurani), sesuai dengan nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan”. (Fuad Hasan, 2011 : 2)

1
“Pada keseluruhan proses pendidikan setidaknya ada tiga komponen pokok yang paling menunjang dan harus dilaksanakan dalam pendidikan yaitu : program yang baik, administrasi dan supervisi yang lancar serta pelayanan bimbingan yang terarah” (Ahmad Juntika, 2006 : 4), dari sini jelas bahwa Bimbingan dan Konseling mempunyai peranan yang cukup penting di dalam bemberikan layanan pada proses pendidikan.
“Mutu pendidikan ikut ditentukan oleh bagaimana bimbingan dan konseling itu dimanfaatkan dan dioptimalkan fungsinya dalam pendidikan, khususnya institusi sekolah”(Ahmad Juntika, 2006 : 4), maka dari itu bimbingan dan konseling sangat diperlukan pada setiap tingkatan pendidikan sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Memperhatikan hal tersebut maka pemberian layanan bimbingan dan konseling harus dilakukan dengan baik dan benar.
Layanan bimbingan dan konseling meliputi sembilan layanan, salah satu layanan yang dapat mempermudah siswa memahami dan membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran ialah layanan penguasaan konten.
Prayitno dalam Tohirin (2014 : 152) mengemukakan bahwa :
Layanan pengusaan konten merupakan suatu layanan bantuan kepada individu ( siswa ) baik sendiri maupun dalam kelompok untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar.

Kemampuan atau kompetensi yang dipelajari merupakan satu unit konten yang di dalamnya terkandung fakta dan data konsep, proses, hukum dan aturan, nilai, persepsi, afeksi, sikap, dan tindakan. Dengan penguasaan konten, individu ( Siswa ) agar menguasai aspek-aspek konten tersebut secara terintegrasi.
Dalam proses layanan penguasaan konten, pengunaan metode sangat menentukan berhasil atau tidaknya proses pembelajaran yang dilaksanakan. Para guru bimbingan dan konseling dapat menggunakan metode diskusi dalam pelaksanaan layanan penguasaan konten untuk meningkatkan Komonikasi Interpersonal Menurut Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetyo (1997:57)”Metode diskusi merupakan metode mengajar dalam suatu kegiatan kelompok untuk memecahkan masalah dan bertukar pikiran guna menemukan pengertian, kesepakatan dan keputusan”. Pada metode diskusi siswa akan dibentuk sebuah kelompok dan diberikan materi yang akan dibahas pada kelompok tersebut serta diberi rangsangan berupa pertanyaan yang mengandung kemungkinan jawaban lebih dari satu sehingga akan memunculkan pendapat dari masing-masing anggota diskusi. Dengan demikian akan terlatih keterampilan komonikasi interpersonal siswa dengan metode diskusi yang telah berikan guru dalam proses pembelajaran di kelas.
Biasanya siswa lancar berkomunikasi dalam situasi tidak resmi atau di luar sekolah, tetapi ketika mereka diminta berkomunikasi atau berbicara di depan kelas siswa mengalami penurunan kelancaran berkomunikasi. Djago Tarigan (1992: 143) berpendapat bahwa ”Ada sejumlah siswa masih merasa takut berdiri di hadapan teman sekelasnya. Bahkan tidak jarang terlihat beberapa siswa berkeringat dingin, berdiri kaku, lupa yang akan dikatakan apabila ia berhadapan dengan sejumlah siswa lainnya”. Sebagaimana disebutkan oleh Supriyadi (2005: 179) “Sebagian besar siswa belum lancar berbicara dalam bahasa Indonesia. Siswa yang belum lancar berkomunikasi atau berbicara tersebut dapat disertai dengan sikap siswa yang pasif, malas berkomunikasi, sehingga siswa merasa takut salah dan malu, atau bahkan kurang berminat untuk berlatih berbicara di depan kelas”.
Kegiatan komunikasi interpersonal merupakan kegiatan sehari-hari yang paling banyak dilakukan oleh manusia sebagai mahluk sosial. Sejak bangun tidur dipagi hari sampai tidur lagi dilarut malam, sebagian besar dari waktu kita digunakan untuk berkomunikasi dengan manusia yang lain. Dengan demikian kemampuan berkomunikasi merupakan suatu kemampuan yang paling dasar. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita sering mengalami perbedaan pendapat, ketidaknyamanan situasi atau bahkan terjadi konflik yang terbuka yang disebabkan adanya kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Menghadapi situasi seperti ini, manusia baru akan menyadari bahwa diperlukan pengetahuan mengenai bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan efektif yang harus dimiliki seorang manusia.
M. Hardjana dalam Suranto AW (2011 :3) mengatakan, Komunikasi Interpersonal adalah interaksi tatap muka antar dua atau beberapa orang, di mana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung dan penerimaan pesan dapat menerima dan menanggapi secara langsung pula.

Komunikasi interpersonal merupakan dasar dari semua bentuk komunikasi. Oleh sebab itu kedudukan komunikasi interpersonal menjadi sangat penting, utamanya dalam hal memproses lambang atau isyarat menjadi lambang atau isyarat yang dimengerti oleh pihak penyampai dan penerima informasi. Komunikasi interpersonal merupakan suatu proses pengolahan informasi tentang bagaimana caranya orang menerima informasi , kemudian mengolahnya , menyimpannya , dan menghasilkannya kembali.
Arni Muhammad dalam Suranto AW ( 2011 : 4) menjelaskan, komonikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi di antara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara seseorang dengan langsung diketahui balikannya  (komunikasi langsung).
Kemampuan berkomunikasi interpersonal yang baik dan efektif sangat diperlukan oleh siswa agar dia dapat menjalani semua aktivitasnya dengan lancar. Terutama ketika siswa melakukan proses pembelajaran pada saat ini siswa dituntut untuk dapat berkomunikasi dengan baik sebab dilingkungan sekolah sangat penting untuk saling berkomunikasi antara siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru. 
Komunikasi interpersonal merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa. Berkomunikasi selalu tidak jauh-jauh dengan bahasa, karena bahasa merupakan unsur penting dalam berkomunikasi dengan manusia yang lain. Komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Komunikasi verbal menggunakan bahasa sebagai sarana, sedangkan komunikasi non verbal menggunakan sarana gerak-gerik seperti warna, gambar, bunyi bel, dan sebagainya. Komunikasi verbal dianggap paling sempurna, efisien, dan efektif.
Dalam situasi seperti ini setiap individu dituntut untuk terampil berkomunikasi. Para siswa dalam proses pendidikannya dituntut untuk dapat mengekspresikan pengetahuan yang telah mereka miliki secara lisan mereka pun harus terampil mengajukan pertanyaan untuk menggali dan mendapatkan informasi apalagi dalam kegiatan diskusi, tanya jawab, debat antar siswa, mereka dituntut terampil adu argumentasi, terampil menjelaskan persoalan dan pemecahannya, dan terampil menarik simpati para pendengarnya.
Komunikasi interpersonal siswa memiliki peranan penting dalam proses belajar mengajar, karena bila siswa memiliki kekurangan dalam hal tersebut maka akan sulit untuk pencapaian tujuan belajar siswa. Aktifnya siswa berbicara mengenai pembelajaran berlangsung adalah sarana utama dalam pelaksanaan proses belajar mengajar yang efektif.
Kenyataannya yang terjadi di lapangan berdasarkan prasurvey di sekolah selama masa Prektek Pengalaman Lapangan ( PPL ) pada periode 2013-2014, prasurvey yang dilakukan pada bulan oktober 2014 dan prasurvey pada tanggal 29 September 2015 di sekolah Madrasah Aliah Swasta Mujahidin Pontianak, masih banyak ditemukan siswa tidak trampil dalam berkomunikasi, hal ini terbukti masih banyak laporan dari guru-guru mata pelajaran kepada guru Bahasa Indonesia sekaligus ditugaskan menjadi guru Bimbingan Penyuluhan yang ada di sekolah tersebut.
Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah mengimplementasikan layanan penguasaan konten dengan menggunakan metode diskusi, yaitu memberikan suatu bantuan kepada siswa yang tidak terampil berkomunikasi dalam mengikuti proses pembelajaran agar dapat mempermudah guru untuk meningkatkan intelegensi siswa secara optimal. Dengan tidak adanya guru bimbingan konseling di sekolah tersebut, berbagai layanan bimbingan konseling jarang diterapkan secara optimal kepada siswa. Oleh karena itu, berdasarkan kondisi tersebut merupakan salah satu alasan peneliti ingin mengadakan penelitian berjudul “Implentasi Layanan Penguasaan Konten Dengan Metode Diskusi Untuk Meningkatkan Keterampilan Komunikasi Interpersonal Pada Siswa Kelas XII IPS Madrasah Aliyah Swasta Mujahidin Pontianak.
B.     Masalah Penelitian
Masalah umum dalam penelitian ini adalah : Bagaimanakah Implementasi layanan penguasaan konten dengan metode diskusi untuk meningkatkan komunikasi interpersonal pada siswa kelas XII IPS Madrasah Aliyah Swasta Mujahidin Pontianak ?
Adapun  sub masalah dalam penelitian ini  adalah :
1.    Bagaimanakah gamabaran umum komunikasi interpersonal siswa sebelum diberikan layanan penguasaan konten dengan metode diskusi pada siswa kelas XII IPS Madrasah  Aliyah Swasta Mujahidin Pontianak ?
2.    Bagaimanakah tahap pelaksanaan implementasi layanan penguasaan konten dengan metode diskusi untuk meningkatkan komunikasi interpersonal pada siswa kelas XII IPS Madrasah Aliyah Swasta Mujahidin Pontianak ?
3.    Bagaimanakah peningkatan komunikasi interpersonal siswa setelah diberikan layanan penguasaan konten dengan metode diskusi pada siswa kelas XII IPS Madrasah Aliyah Swasta Mujahidin Pontianak ?

C.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi layanan penguasaan konten dengan metode diskusi untuk meningkatkan komunikasi interpersonal pada siswa kelas XII IPS Madrasah Aliayah Swasta Mujahidin Pontianak. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah memperoleh informasi secara objektif tentang :
1.         Gambaran umum komunikasi interpersonal siswa sebelum diberikan layanan penguasaan konten dengan metode diskusi pada siswa kelas XII IPS Madrasah Aliayah Swasta Mujahidin Pontianak.
2.         Tahap pelaksanaan layanan pengusaan konten  dengan  metode diskusi untuk meningkatkan komunikasi interpersonal pada siswa kelas XII IPS Madrasah Aliayah Swasta Mujahidin Pontianak.
3.         Peningkatan komunikasi interpersonal siswa setelah diberikan layanan penguasaan konten dengan metode diskusi pada siswa kelas XII IPS Madrasah Aliayah Swasta Mujahidin Pontianak.

D.    Manfaat Penelitian
1.    Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk pengembangan teori Bimbingan dan Konseling berkaitan dengan fungsi-fungsi Bimbingan dan Konseling yaitu pemahaman dan pengembangan khususnya dalam mengimplementasikan layanan pengusaan konten untuk meningkatkan komonikasi interpersonal siswa.

2.    Manfaat Praktis, Hasil Penelitian Ini Dapat Berguna Bagi:
a.         Siswa, dapat miningkatkan komunikasi interpersonal dengan optimal sehingga mempermudah mengikuti proses belajar dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.   
b.         Guru bimbingan penyuluhan, memberikan sumbangsih dan menambah pengalaman bagi guru pembimbing untuk meningkatkan pelaksanaan layanan penguasaan konten, sehingga siswa dapat melaksanakan kewajibannya.
c.         Guru mata pelajaran, dapat meningkatkan kompetensi dalam menggunkan metode mengajar, serta dengan memahami kemampuan yang ada pada diri siswa sehingga dapat membantu guru dalam menyampaikan materi.
d.         Kepala sekolah, dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan kajian menentukan kebijakan sekolah, terutama dalam pelaksanaan pengajaran yang berkaitan dengan pengimplementasian layanan penguasaan konten untuk meningkatkan komunikasi interpersonal siswa.
e.         Peneliti, dengan adanya penelitian tindakan ini penulis dapat menerapkan ilmu yang diperoleh selama diperkuliahan dan dapat menambah pengalaman serta masukan dan juga ilmu yang bermanfaat dalam pemecahan masalah dilapangan. Selain itu, penulis menyadari akan pentingnya pelaksanaan kegiatan layanan penguasaan konten untuk meningkatkan komunikasi interpersonal siswa.

E.     Ruang Lingkup Penelitian
1.    Fokus Penelitian
Dalam penelitian ini, yang menjadi fokus penelitian adalah  Implementasi layanan penguasaan konten untuk meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal pada siswa kelas XII IPS Madrasah Aliyah Swasta Mujahidin Pontianak.
a.       Layanan penguasaan konten dengan aspek-aspek meliputi :
1)      Perencanaan
2)      pelaksanaan
3)      Evaluasi
( Tohirin, 2007 :  156 ).

b.      Komunikasi Interpersonal dengan aspek – aspek meliputi :
1)      Keterbukaan
2)      Empati
3)      Sikap mendukung
4)      Sikap positif
5)      Kesetaraan  ( Davito dalam suranto AW 2011:82 )
2.      Divinisi Operasional
Divinisi oprasional adalah penjelasan terhadap istilah dalam fokus penelitian, semuanya itu dilakukan dalam upaya agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam istilah yang dimaksudkan, adapun devinisinya sebagai berikut:

a.       Layanan Penguasaan Konten

Layanan penguasaan konten artinya layanan bantuan kepada individu (sendiri-sendiri ataupun dalam kelompok ) untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui kegiatan pembelajar.
Pembelajaran adalah proses yang dirancang untuk membawa siswa aktif dalam suasana belajar yang penuh makna, merangsang siswa untuk menggali, menemukan dan menguasai materi pelajaran. Layanan penguasaan konten adalah siswa dapat memahami dan mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, keterampilan dan materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta tuntuntan kemampuan yang berguna dalam kehidupan dan perkembangan dirinya.

b.      Aspek-aspek layanan penguasaan konten

1)        Perencanaan atau tahap kegiatan, yaitu kegiatan awal untuk menentukan arah dan tujuan pelaksanaan kegiatan yang akan dilakukan agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
2)      Pelaksanaan kegiatan, yaitu penerapan pelaksanaan rencana-renacana yang telah disusun.
3)      Evaluasi, yaitu untuk mengetahui sejauh mana pencapaian hasil kegiatan yang telah dilaksanakan.

c.       Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terkandung dalam tatap muka dan saling mempengaruhi, mendengarkan, menyampaikan pernyataan, keterbukaan, kepekaan yang merupakan cara paling efektif dalam mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dengan efek umpan balik secara langsung.
d.      Aspek – aspek komunikasi interpersonal

1)      Keterbukaan
yaitu adanya kemauan untuk membuka diri mengatakan tentang dirinya sendiri, yang semula disembunyikan. Misal; bersikap terbuka pada teman terdekat tentang masalah yang dihadapi.
2)      Empati
artinya suatu perasaan dimana individu merasakan sama seperti yang dirasakan individu lain. Misal; ikut mendengarkan dan menerima apa adanya setiap permasalahan yang diungkapkan individu.

3)      Sikap mendukung
keterbukaan dan simpati masih belum cukup tetapi perlu adanya situasi yang mendukung sehingga komunikasi interpersonal akan lebih efektif yaitu memberikan masukan serta solusi yang diungkapkan individu.
4)      Sikap positif
apabila seseorang berpikir positif maka dalam berkomunikasi akan positif juga, dan individu tersebut akan berperan serta secara aktif dan mau membuka diri yaitu tidak bersikap negatif jika ada yang berkeluh kesah serta mau berempati dengan memberi masukan secara bijaksana.
5)      Kesetaraan
kesetaraan disini dimaksudkan dalam hal berbicara dan mendengar, tingkat pendidikan, tingkat sosial, tingkat ekonomi, status, dan nasib dalam komunikasi interpersonal agar dapat mencapai keefektifannya.

F.     Kerangka Konsep dan Hipotesis Tindakan
1.    Kerangka Konsep
Layanan Penguasaan Konten merupakan layanan bantuan kepada individu atau kelompok untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar. Kemampuan yang di pelajari itu merupakan satu unit konten yang di dalamnya terkandung fakta dan data, konsep, proses, hukum, dan aturan, nilai, persepsi, afeksi, sikap dan tindakan yang terkait di dalamnya. Layanan penguasaan konten membantu individu menguasai aspek-aspek konten tersebut secara tersinegri. Dengan penguasaan konten, individu diharapkan mampu memenuhi kebutuhannya serta mengatasi masalah-masalah yang dialaminya.
Layanan penguasaan konten yang diberikan pada siswa diarahkan untuk memberikan bantuan dalam mengembangkan komunikasi interpersonal, yang harus ditingkatkan agar proses pembelajarannya berjalan secara optimal.
Layanan penguasaan konten akan bermanfaat jika diberikan sesuai dengan kebutuhan siswa, oleh karena itu layanan penguasaan konten memberikan langkah-langkah tertentu agar lebih terarah pada tujuan yaitu untuk meningkatkan komunikasi interpersonal siswa.
Dimana layanan penguasaan konten ini dilaksanakan dengan mengunkan metode diskusi, sedangkan yang dimaksud dengan metode diskusi adalah suatu cara yang digunakan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Salah satu metode dalam layanan penguasaan konten yang dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan komunikasi interpersonal siswa yaitu metode diskusi. Dalam hubungannya dengan belajar siswa yang memiliki komunikasi interpersonal yang baik akan mempermudah untuk peningkatan kemampuan berpikir. Oleh karena itu, komunikasi interpersonal harus dimiliki setiap siswa.
Komunikasi interpersonal adalah untuk mendapatkan pengetahuan tentang diri, membentuk hubungan yang lebih berarti dan memperoleh tambahan pengetahuan dunia luar. Komunikasi interpersonal juga biasanya dimotivasi oleh kombinasi bermacam-macam faktor dan tidak mempunyai satu efek, tetapi kombinasi berbagai efek atau hasil. Misalnya diberikan suatu interaksi interpersonal, diberikan beberapa tujuan, dimotivasi oleh kombinasi berbagai faktor yang unik dan menghasilkan kombinasi faktor-faktor atau efek yang unik.
Salah satu bentuk upaya untuk meningkatkan komunikasi interpersonal siswa adalah mengimplementasikan layanan penguasaan konten dengan metode diskusi. Dalam layanan ini diberikan suatu pemberian bantuan kepada siswa dengan mengoptimalkan latihan berbicara melalui pola diskusi yang baik.
2.      Hipotesis Tindakan

Berdasarkan konsep yang diuraikan diatas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “Implementasi layanan penguasaan konten dengan metode diskusi untuk meningkatkan komunikasi interpersonal pada siswa kelas XII IPS Madrasah Aliyah Swasta Mujahidin Pontianak”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar