Kamis, 11 April 2013

BK



PSIKOANALISIS 

MUSMULYADI 

KELAS BK BORE 
STKIP PONTIANAK 

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Pendekatan psikoanalisis dalam konseling mempersentasikan tradisi utama dalam konseling dan psikoterapi kontemporer. Konseling psikoanalisis memberikan perhatian terhadap kemampuan konselor untuk menggunakan apa yang terjadi, dalam hubungan antara konseli dan konselor yang bersifat segera dan terbuka dalam rangka mengeksplorasi tipe perasaan dan dilema hubungan yang mengakibatkan kesulitan bagi konseli dalam kehidupannya sehari-hari (McLeod, 2006, p.90). Pendekatan psikoanalisis merupakan pendekatan yang banyak mempengaruhi timbulnya pendekatan-pendekatan lain dalam konseling.
Psikoanalisis sering juga disebut dengan psikologi dalam, karena pendekatan ini berpendapat bahwa segala tingkah laku manusia bersumber pada dorongan yang terletak jauh di dalam alam ketidaksadaran. Psikoanalisis banyak digunakan secara bergantian dengan istilah psikodinamik, karena menakankan pada dinamika atau gerak dorong mendorong antara alam ketidaksadaran dan alam kesadaran, di mana alam ketidaksadaran mendorong untuk muncul ke dalam alam kesadaran (Awisol,2004, p.17).
B.     TUJUAN
Tujuan utama konseling dalam pola pikir psikoanalisis adalah membuat kesadaran (concious) hal-hal yang tidak disadari(unconscious) konseli. Hal-hal yang terdapat dilevel ketidak sadaran dibawa ke level kesadaran. Ketika hal-hal yang telah ditekan di dalam ketidaksadaran di munculkan kembali, maka masalah tersebut dapat diatasi secara lebih rasional dengan menggunakan berbagai metode (Thompson,et.at., 2004, p.92).
BAB II
PEMBAHASAN
A.    RIWAYAT TOKOH
Sigmund Freud lahir tanggal 6 Mei 1856 di kota kecil Freiberg, wilyah Moravia. Ayahnya adalah pedagang wool dengan pikiran maju dan rasa humor yang baik. Ibu nya seorang wanita yang aktif dan merupkan istri kedua bapaknya dengan usia 20 tahun lebih muda. Ibu nya melahirkan anak pertama pada usia 21 tahun, yaitu sigmund. Sigmund punya 2 orang saudara seayah yang lebih tua darinya dan 6 saudara sekandung. Waktu dia berusia 4 atua 5 tahun, keluarganya pindah ke wina dimana dia menghabiskan sebagian besar hidupnya. Gerald Corey dalam “Theory and practice of Counseling and psychotherapy” menjelaskan bahwa dalam hidupnya, ia di tempa oleh seorang ayah yang oteriter dan dengan uang yang sangat terbatas, sehingga keluarganya terpaksa hidup berdesakan disebuah apertemen yang sempit, namun orangtua nya tetap berusaha memberikan motivasi terhadap kapasitas intelektual yang tampak jelas yang dimiliki oleh anak-anaknya.
Sebagai anak cerdas dan selalu mendapat nilai tertinggi di kelasnya, freud melanjutkan pendidikan kesekolah kedokteran, salah satu pilihan bergengsi bagi anak-anak yahudi yang pintar dikala itu. Semasa kuliah, die terlibat dalam berbagai penelitian di bawah arahan profesor fisiologi bernama Ernst Brucke. Brucke menyakini sebuah konsep yang kemudian sangat puler,kalua bukan redikal, sebuah konsep yang kita kenal dengan reduksionisme: “Tidak ada kekutan lain yang aktif didalam organisme yang hidup selain kekutan fisikal dan kimiawi”. Selama bertahun-tahun, freud juga berusaha meruduksi kepribadian menjadi neurologi, walaupun dia akhirnya menyerah dengan usahanya ini.
Sigmund Freud dikenal juga sebagai tokoh yang kratif dan produktif. Ia sering menghabiskan waktunya 18 jam sehari untuk menulis karya-karyanya, dan karya tersebut dikumpulkan samapai 24 jilid. Hasil usahanya itu dalah sebuah teori kepribadian dan psikotrapi yang sngat komprehensif di bandingkan dengan teori serupa yang pernah dikembangkan. Dalam dunia pendidikan  pada masa itu, Sigmund Freud belum sebesar populer. Menrut A. Supratika, nama Freud baru dikenal pertama kalinya dalam kalangan psikologi akedemis pada tahun 1909. Ketika ia diundang oleh G. Stanly Hall, seorang serjana psikologi amerika, untuk memberikan serangkaian kuliah di iniversitas Clark di Worcester, Massachusetts. Pengaruh freud di lingkungan psikologi baru terasa sekitar tahu 1930-an. Akan tetapi Asosiasi Psikoanalisis Internasional sudah terbentuk tahun 1910, begitu juga dengan lembaga pendidikan psikoanalisis sudah sudah didirikan di banyak negara.
Freud pindah ke inggris sesaat sebelum perang  dunia II pecah , kerena Wina sudah tidak aman lagi bagi orang yahudi, khusus yang terkenal seperti Freud. Tidak lama lagi setalah itu, dia meninggal di london pada pada tangal 23 September 1939 kerana kangker mulut dan rahang yang telah diidapnya selama lebih kurang 20 tahun. 

B.     KONSEP DASAR
Pendekatan psikoanalisis memiliki ciri-ciri antara lain: menekankan pada pentingnya riwayat hidup konseli ( perkembangan psikoseksual), pengaruh dari implus-implus genetik (instink), pengaruh energi hidup (libido), pengaruh pengalaman dini individu, dan pengaruh irosionalitas dan sumber-sumber ketidak sadaran tingkah laku. Kontribusi freud yang terbesar dalam dunia psikologi dan psikiatri adalah konsep uncosiousness dan level of consiousness yang merupakan kunci dalam memahami tingkah laku dan masalah kepribadian. Menurut freud, manusia memiliki gambaran jiwa yang dianologikan seperti gunung es (Corey, 1986, p.12).
Consciousness (keadaran) berisi ide-ide atau hal-hal yang disadari, subconsciousness (praketak sadaran) berisi ide-ide atau hal-hal tiadak disadari yang sewaktu-waktu dapat di panggil ke level kesadaran; dan unconsciuosness (ketidaksadaran ) merupakan bagian terbesar dari gambaran jiwa manusia yang berisi dorongan-dorongan yang sebagian besar sudah ada sejak lahir yaitu dorongan seksual dan agresi, sebagian lagi berasal dari pengalaman masa lalu yang pernah terjadi pada tingkat kesadaran yang bersifat traumatis, seningga perlu ditekankan dan dimasukan dalam ketidaksadaran dengan kata lain sudah di lupakan. Dorongan –dorongan ketidaksadaran bagian terbesar dari kpribadian ingin muncul dan mendesak terus kesadaran, mempengaruhi tingkah laku;  sedangkan tempat di atas sangat terbatas sekali (Alwisol, 2004, p.16;Corey,1986,p.12).
a.      Struktur atau organisasi kepribadian
Menurut pandangan psikoanalisi, struktur atau organisasi kepribadian individu terdiri dari tiga sistem yaitu id, eg      o, dan superego. Pada orang yang dianggap sehat mental, ketiga sistem merupakan kesatuan organisasi yang harmonis. Sehingga memungkinkan individu berhubungan dengan lingkungan secara efisien dan memuaskan. Bila tiga sistem bertentangan satu sama lain, individu mengalami kesulitan penyusuaian diri. Tingkah laku manusia hampir selalu merupakan produk interaksi ke tiga sistem tersebut. (Corey, 1986,p.12).
1.      Id
Id merupakan  sistem  utama kepribadian, Id berisi segala sesuatu yang secara psikologis di turunkan, telah ada sejak lahir termasuk insting yaitu insting untuk mempertahankan hidup (live instinct ) merupakan dorongan seksual atau libido dan dorongan untuk mati (death instinct) merupakan dorongan agresi (marah, menyerang orang lain, berkelahi ) (Corey, 1986,p.13). id merupakan rahim tempat ego berkembang. Id adalah sumber utama dan reservoir  atau cadangan dari energi-energi psikis dan merupakan penggerak ego dan superego yang berhubungan erat dengan proses-proses jasmani, dari mana energi berasal ( Thompson, et.al., 2004, p.80).
2.      Ego 
Ego merupakan bagian yang memiliki kontak realitas dengan dunia luar, ia bertindak sebagai eksekutif yang mengatur, mengontrol, meregulasi kepribadian. Ego dapat dianologikan sebagai polisi lalu lintas (traffic cop) untuk id, superego dan duni. Tugas utama ego adalah memediasi antara instict dan lingkungan sekitar. Ego mengontrol kesadaran dan bertindak sebagai sensor ( Corey, 1986, p. 13).
3.      Superego
Superego merupakan perwujudan internal dari nilai-nilai dan prinsip moral, serta cita-cita tradisional masyrakat. Superego merupakan wewenang moral dari kepribadian dan mempersentasikan hal-hal yang edial, bukan yang real, memperjuangkan kesempurnaan, bukan kenikmatan, memutuskan benar salah, bertindak sesuai norma moral masyarakat. Superego merupakan internalisasi dari standar orang tua dan masyarakat, berkaitan dengan hadiah (rewaard) dan hukum psikologi. 
b.      Dinamika kepribadian
Insting merupakan representasi psikologis yang dibawa sejak lahir yang mengacu pada keinginan (wish) yang merupakan bagian dari kebutuhan (need). Contohnya, lapar adalah kebutuhan (need) yang mengarah pada keinginan (wish) akan makanan. Keinginan (wish) ini menjadi motif tingkah laku. Freud percaya bahwa tingkah laku manusia dimotivasi oleh insting dasar (Thompson, et.al., 2004,p.18).
c.       Perkembangan kepribadian
Psikoanalisis memiliki pendekatan yang unik dalam melihat perkembangan kepribadian manusia. Freud mengemukakan perkembangan psikoseksual yang merupakan dasar pemahaman terhadap masalah yang dialami oleh konseli. Corey (1986) menemukan bahwa permasalahan yang ditemuinya dalam konseling individual dan kelompok adalah
1)  Ketidakmampuan mempercayai diri sendiri dan orang lain, ketakutan akan cinta dan hubungan yang dekat, serta rendah nya percaya diri (self-esteem).
2)  Ketidakmampuan mengenali dan mengekspresikan perasaan kemarahan.
3)  Ketidakmampuan untuk menerima sepenuhnya seksualitas dari peranan seksual, kesulitan menerima diri sebagai perempuan atau laki-laki.
Menurut psikoanalisis freudian, tiga area perkembangan  personal dan sosial di bentuk pada enam tahun pertama kehidupan manusia. Periode ini merupakan landasan perkembangan kepribadian di masa-masa selanjutnya (Corey, 1986,p.16-17).
d.      Mekanisme pertahanan ego
Mekanisme pertahanan ego (ego defense mechanisms) membantu individu mengatasi kecemasan dan terancamnya ego. Pertahanan ego (ego defense) merupakan tingkah laku moral kerena ia memiliki nilai yang adektif bila tidak menjadi gaya dalam menghadapi realitas. Mekanisme pertahanan ego (ego defense mechanisms) memiliki dua kraketristik, yaitu:
1) Menyangkal realita
2) Mengganti realitas (distort reality ).
Clark (1991) mendifinisikan mekanisme pertahanan ego sebagai gangguan ketidaksadaran dari realitas yang bertujuan untuk mengurangi efek yang menyakitkan dan konflik melalui respon yang otomatis dan sudah menjadi kebiasaan. Dibawah ini dideskripsikan beberapa ego defense yang umum digunakan individu dalam berhungan dengan orang lain adalah:

·       Represi (repression) dan supresi (suppression)
Represi adalah proses ego memakai kekuatan untuk menekan segala sesuatu ( ide, insting, ingatan, pikiran ) yang dapat menimbulkan kecemasan keluar dari kesadaran (Alwisonl,2004, p. 30). Seadangkan supresi adalah usaha sadar untuk melakukan hal yang sma dengan represi (Thompson, et.al.,2004, p. 83)
·       Pembentukan reaksi ( reaction formation )
Pembentukan reaksi ( reaction formation ) adalah tindakan defensif dengan cara mengganti impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan impuls atau perasaan yang berlawanan atau kebalikannya dalam kesadran.
·       Proyeksi ( projection )
Proyeksi adalah melakukan artibusi pada karakteristik orang lain di luar diri (Thompson, et.al., 2004, p.83). hal ini dilakukan karena superego melarang, individu mengatribusikan pikiran, perasaan, motif yang tidak dapat diterima dengan memproyeksikan terhadap orang lain.
·       Rasionalisasi ( rationalisation )
Rasionalisasi merupakan cara untuk memberi alasan-alasan yang masuk akal sebagai usaha mempertahankan egonya sehingga seolah-olah dapat dibenarkan. Cara ini membantu mengurangi ledakan yang akan dirasakan dan juga memberi peluang kepada ego untuk berlindung dibalik alasan yang diberikan.
·       Penempatan yang keliru ( displacement)
Penempatan yang keliru adalah mengrahkan energi dari opjek utama ke opjek pengganti ketika insting terhalangi ( Thompson,et.al., 2004, p.83 ). Cara ini dilakukan untuk menghadapi kecemasan dengan memindahkan pada obyek yang lebih aman.
·       Fixasi dan regresi
Fixasi adalah terhentinya perkembngan normal pada tahap perkembangan tertentu kerena perkembangan selantnya sangat sukar sehingga menimbulkan frustasi dan kecemasan yang terlalu kuat. Sedangkan regresi adalah usaha untuk menghindari kegagalan atau ancaman terhadap ego, indivudu mundur lagi ke tahaf perkembangan yang lebih rendah.
·       Penyangkalan (denial)
Penyangkalan adalah menolak kenyataan, menolak stimulus atau persefsi realistik yang tidak menyenangkan dengan menghilangkan atau mengganti persepsi itu dengan fantasi atau halusinasi.
·       Introyeksi (introjecsion)
Introyeksi adalah suatu bentuk pertahanan diri yang dilakukan dengan mengambil alih nilai-nilai dan standar orang lain baik positif maupun negatif (Loekmono,2003,p.10).

·       Identifikasi
Identifikasi merupakan cara mereduksi ketegangan dengan meniru (melakukan imitasi) atau mengendentifikasikan diri dengan orang yang di anggap berhasil memuaskan hasratnya dibandind dirinya. Identifikasi merupakan proses pemindahan enrgi psikis dari Id dan merupakan mekanisme pertahanan sejalan dengan konsep pemindahan energi psikis tersebut (Alwisol,2004,p.28).



C. TUJUAN TEORY DAN TERAPY PSIKOANALISIS
1. Tujuan Teori Psikoanalisis
Tujuan Teori Psikoanalisis antaralain adalah :
a.      Memahami individu (understanding-individu),

Memahami individu. Seorang guru dan pembimbing dapat memberikan bantuan yang efektif jika mereka dapat memahami dan mengerti persoalan, sifat, kebutuhan, minat, dan kemampuan anak didiknya. Karena itu bimbingan yang efektif menuntut secara mutlak pemahaman diri anak secara keseluruhan. Karena tujuan bimbingan dan pendidikan dapat dicapai jika programnya didasarkan atas pemahaman diri anak didiknya. Sebaliknya bimbingan tidak dapat berfungsi efektif jika konselor kurang pengetahuan dan pengertian mengenai motif dan tingkah laku konseli, sehingga usaha preventif dan treatment tidak dapat berhasil baik.

b.      Preventif dan pengembangan individual

Preventif dan pengembangan individual. Preventif an merupakan dua sisi dari satu mata uang. Preventif berusaha mencegah kemorosotan perkembangan anak dan minimal dapat memelihara apa yang telah dicapai dalam perkembangan anak melalui pemberian pengaruh-pengaruh yang positif, memberikan bantuan untuk mengembangkan sikap dan pola perilaku yang dapat membantu setiap individu untuk mengembangkan dirinya secara optimal.
     c.    Membantu individu untuk menyempurnakannya.
Membantu individu untuk menyempurnakan. Setiap manusia pada saat tertentu membutuhkan pertolongan dalam menghadapi situasi lingkungannya. Pertolongan setiap individu tidak sama. Perbedaan umumnya lebih pada tingkatannya dari pada macamnya, jadi sangat tergantung apa yang menjadi kebutuhan dan potensi yang ia meliki. Bimbingan dapat memberikan pertolongan pada anak untuk mengadakan pilihan yang sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya.
Jadi  dalam konsep yang lebih luas, dapat dikatakan bahwa teori Freud dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan proses bantuan kepada konseli, sehingga metode dan materi  yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan individu.
2. Tujuan Terapy Psikoanalisis
Tujuan terapi Psikoanalisis:
Tujuan utama konseling dalam pola pikir psikoanalisis adalah membuat kesadaran (concious) hal-hal yang tidak disadari(unconscious) konseli. Hal-hal yang terdapat dilevel ketidak sadaran dibawa ke level kesadaran. Ketika hal-hal yang telah ditekan di dalam ketidaksadaran di munculkan kembali, maka masalah tersebut dapat diatasi secara lebih rasional dengan menggunakan berbagai metode (Thompson,et.at., 2004, p.92).
·         Membentuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yg tak disadari didalam diri klien
·         Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak

D. TEKNIK-TEKNIK PSIKOANALISIS
Adapun Teknik dasar dalam konseling psikoanalisis  (Prayitno : 1998,  44) adalah sebagai berikut:
a. Asosiasi bebas ( Free Association )
Dalam asosiasi bebas, klien mengabaikan cara normal dalam mensensor pemikiran dengan secara sadar menekan pemikiran tersebut dan bukannya mengatakan apa yang ada dibenaknya, meskipun jika pemikiran tersebut terdengar konyol, irasional, sugestif, atau menyakitkan. Dengan begini, id diminta untuk berbicara dan ego tetap diam (Freud, 1936). Materi tak sadar memasuki pikiran sadar, dan disitu konselor menginterpretasikannya.
 b.       Analisis Mimpi.
Freud yakin bahwa mimpi merupakan jalan utama untuk memahami alam tidak sadar, bahkan menyebutnya “ jalan mewah menuju alam tidak sadar. ” Ia berpikir mimpi merupakan suatu upaya untuk memenuhi keinginan di masa kanak-kanak atau ekspresi hasrat seksual yang tidak diakui. Di dalam analisa mimpi, klien didukung untuk bermimpi dan mengingat mimpi-mimpinya. Konselor harus benar-benar sensitive terhadap dua aspek mimpi: isi manifestasi (makna yang jelas) dan isi laten (tersembunyi tetapi makna yang benar) (Jones, 1979). Ahli analisa membantu menginterpretasikan ke dua aspek tersebut kepada klien.
 c. Analisis Tranferensi.
Transference merupakan tanggapan klien pada konselor seolah-olah konselor tersebut adalah Gambar yang signifikan di dalam kehidupan masa lalu klien, biasanya Gambar orang-tua. Ahli analisa mendukung transference ini dan menginterpretasikan perasaan negatif maupun positif yang diekspresikan. Pengungkapan ekspresi ini bersifat terapi, dan meringankan beban. Tetapi nilai sebenarnya dari pengalaman ini berada pada rasa sadar yang meningkat pada diri klien itu sendiri, yang keluar melalui analisa transference konselor. Mereka yang mengalami transference dan memahami apa yang terjadi kemudian akan merasa lepas untuk maju ke tahap perkembangan yang selanjutnya.
 d.       Analisis Resistensi.
Terkadang klien mengalami kemajuan pesat saat menjalani psikoanalisis dan kemudian melambat atau berhenti. Resistensi mereka terhadap proses terapi ini dapat berupa, seperti misalnya melewatkan janji temu, datang terlambat, tidak membayar biaya perawatan, tetap berada pada transference, memblokir pemikiran pada asosiasi bebas, atau menolak untuk mengingat mimpi atau kenangan yang lebih awal. Analisa konselor terhadap resistensi dapat membantu klien untuk mendapatkan pencerahan tentang hal ini dan juga pada perilaku lainnya. Jika resistensi tidak dihadapi, maka proses terapi tersebut kemungkinan akan mengalami kebuntuan lagi.
 e.  Interpretasi
Interpretasi harus dipandang sebagai bagian dari teknik-teknik yang telah kita amati dan bersifat saling mendukung. Ketika memberikan interpretasi, konselor membantu klien memahami makna peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau dan masa kini. Interpretasi memberikan penjelasan dan analisa terhadap pemikiran, perasaan dan tindakan klien. Para konselor harus berhati-hati dalam menggunakan Teknik interpretasi. Jika dilakukan terlalu cepat, hal itu dapat membuat klien menjauh. Tetapi, jika tidak digunakan sama sekali atau digunakan terlalu sering, maka klien akan gagal dalam mendapatkan pencerahan.
f.          Teknik analisis kepribadian ( case histories)
Pendekatan dinamika penyembuhan gangguan kepribadian dilakukan dengan  melihat dinamika dari dorongan primitif (libido) terhadap ego dan bagaimana superego menahan dorongan tersebut. Apakah ego bisa memepertahankan keseimbangan antara Id dan superego. Kemudian dicari penyebab mengapa ego tidak dapat mempertahankan keseimbangan itu (Thompson,et.at., 2004, p. 92). Pendekatan secara khusus (case history) bertujuan untuk melihat fase-fase perkembangan dorongan seksual apakah berjalan wajar apakah ada hambatan dan pada fase mana mulai terjadi hambatan.
E.     PERAN, FUNGSI KONSELOR DAN KONSELI
Peran Konselor antaralain :
 Sebagai guru
 Sebagai interpretor
 Sebagai analisator
 Sebagai penampung ungkapan / pendengar aktif
Fungsi konselor dalam konseling Psikoanalisis sangat dominan. Konselor menentukan proses dan arah konseli. Peran dan fungsi konselor pada pendekatan ini adalah :
1.      Percaya bahwa apapun perasaan konseli terhadap konselor merupakan produk dari perasaannya yang diasosiasikan dengan orang yang penting dengan masa lalunya.
2.      Membantu konseli menemukan kebebasan bercinta, bekerja dan bermain
3.      Membantu konseli menemukan kesadaran diri, kejujuran dan hubungan pribadi yang efektif, dapat mengatasi kecemasan dengan cara realistis, dan dapat mengendalikan tingkah laku impulsif dan irasional.
4.      Berupaya agar konseli mendapat wawasan terhadap permasalahan dengan mengalami kembali dan kemudian menyelasaikan pengalaman masa lalunya.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar