PSIKOANALISIS
MUSMULYADI
KELAS BK BORE
STKIP PONTIANAK
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pendekatan
psikoanalisis dalam konseling mempersentasikan tradisi utama dalam konseling
dan psikoterapi kontemporer. Konseling psikoanalisis memberikan perhatian
terhadap kemampuan konselor untuk menggunakan apa yang terjadi, dalam hubungan
antara konseli dan konselor yang bersifat segera dan terbuka dalam rangka
mengeksplorasi tipe perasaan dan dilema hubungan yang mengakibatkan kesulitan
bagi konseli dalam kehidupannya sehari-hari (McLeod, 2006, p.90). Pendekatan
psikoanalisis merupakan pendekatan yang banyak mempengaruhi timbulnya
pendekatan-pendekatan lain dalam konseling.
Psikoanalisis
sering juga disebut dengan psikologi dalam, karena pendekatan ini berpendapat
bahwa segala tingkah laku manusia bersumber pada dorongan yang terletak jauh di
dalam alam ketidaksadaran. Psikoanalisis banyak digunakan secara bergantian
dengan istilah psikodinamik, karena menakankan pada dinamika atau gerak dorong
mendorong antara alam ketidaksadaran dan alam kesadaran, di mana alam ketidaksadaran
mendorong untuk muncul ke dalam alam kesadaran (Awisol,2004, p.17).
B.
TUJUAN
Tujuan
utama konseling dalam pola pikir psikoanalisis adalah membuat kesadaran
(concious) hal-hal yang tidak disadari(unconscious) konseli. Hal-hal yang
terdapat dilevel ketidak sadaran dibawa ke level kesadaran. Ketika hal-hal yang
telah ditekan di dalam ketidaksadaran di munculkan kembali, maka masalah
tersebut dapat diatasi secara lebih rasional dengan menggunakan berbagai metode
(Thompson,et.at., 2004, p.92).
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
RIWAYAT TOKOH
Sigmund
Freud lahir tanggal 6 Mei 1856 di kota kecil Freiberg, wilyah Moravia. Ayahnya
adalah pedagang wool dengan pikiran maju dan rasa humor yang baik. Ibu nya
seorang wanita yang aktif dan merupkan istri kedua bapaknya dengan usia 20
tahun lebih muda. Ibu nya melahirkan anak pertama pada usia 21 tahun, yaitu
sigmund. Sigmund punya 2 orang saudara seayah yang lebih tua darinya dan 6
saudara sekandung. Waktu dia berusia 4 atua 5 tahun, keluarganya pindah ke wina
dimana dia menghabiskan sebagian besar hidupnya. Gerald Corey dalam “Theory and practice of Counseling and
psychotherapy” menjelaskan bahwa dalam hidupnya, ia di tempa oleh seorang
ayah yang oteriter dan dengan uang yang sangat terbatas, sehingga keluarganya
terpaksa hidup berdesakan disebuah apertemen yang sempit, namun orangtua nya
tetap berusaha memberikan motivasi terhadap kapasitas intelektual yang tampak
jelas yang dimiliki oleh anak-anaknya.
Sebagai anak cerdas dan selalu mendapat nilai
tertinggi di kelasnya, freud melanjutkan pendidikan kesekolah kedokteran, salah
satu pilihan bergengsi bagi anak-anak yahudi yang pintar dikala itu. Semasa
kuliah, die terlibat dalam berbagai penelitian di bawah arahan profesor
fisiologi bernama Ernst Brucke. Brucke menyakini sebuah konsep yang kemudian
sangat puler,kalua bukan redikal, sebuah konsep yang kita kenal dengan
reduksionisme: “Tidak ada kekutan lain yang aktif didalam organisme yang hidup
selain kekutan fisikal dan kimiawi”. Selama bertahun-tahun, freud juga berusaha
meruduksi kepribadian menjadi neurologi, walaupun dia akhirnya menyerah dengan
usahanya ini.
Sigmund Freud dikenal juga sebagai tokoh yang
kratif dan produktif. Ia sering menghabiskan waktunya 18 jam sehari untuk
menulis karya-karyanya, dan karya tersebut dikumpulkan samapai 24 jilid. Hasil
usahanya itu dalah sebuah teori kepribadian dan psikotrapi yang sngat
komprehensif di bandingkan dengan teori serupa yang pernah dikembangkan. Dalam
dunia pendidikan pada masa itu, Sigmund Freud
belum sebesar populer. Menrut A. Supratika, nama Freud baru dikenal pertama
kalinya dalam kalangan psikologi akedemis pada tahun 1909. Ketika ia diundang
oleh G. Stanly Hall, seorang serjana psikologi amerika, untuk memberikan
serangkaian kuliah di iniversitas Clark di Worcester, Massachusetts. Pengaruh
freud di lingkungan psikologi baru terasa sekitar tahu 1930-an. Akan tetapi
Asosiasi Psikoanalisis Internasional sudah terbentuk tahun 1910, begitu juga
dengan lembaga pendidikan psikoanalisis sudah sudah didirikan di banyak negara.
Freud pindah ke inggris sesaat sebelum
perang dunia II pecah , kerena Wina
sudah tidak aman lagi bagi orang yahudi, khusus yang terkenal seperti Freud.
Tidak lama lagi setalah itu, dia meninggal di london pada pada tangal 23
September 1939 kerana kangker mulut dan rahang yang telah diidapnya selama
lebih kurang 20 tahun.
B.
KONSEP DASAR
Pendekatan
psikoanalisis memiliki ciri-ciri antara lain: menekankan pada pentingnya
riwayat hidup konseli ( perkembangan psikoseksual), pengaruh dari implus-implus
genetik (instink), pengaruh energi
hidup (libido), pengaruh pengalaman dini individu, dan pengaruh irosionalitas
dan sumber-sumber ketidak sadaran tingkah laku. Kontribusi freud yang terbesar
dalam dunia psikologi dan psikiatri adalah konsep uncosiousness dan level of consiousness
yang merupakan kunci dalam memahami tingkah laku dan masalah kepribadian.
Menurut freud, manusia memiliki gambaran jiwa yang dianologikan seperti gunung
es (Corey, 1986, p.12).
Consciousness
(keadaran) berisi ide-ide atau hal-hal yang disadari, subconsciousness
(praketak sadaran) berisi ide-ide atau hal-hal tiadak disadari yang
sewaktu-waktu dapat di panggil ke level kesadaran; dan unconsciuosness
(ketidaksadaran ) merupakan bagian terbesar dari gambaran jiwa manusia yang
berisi dorongan-dorongan yang sebagian besar sudah ada sejak lahir yaitu
dorongan seksual dan agresi, sebagian lagi berasal dari pengalaman masa lalu
yang pernah terjadi pada tingkat kesadaran yang bersifat traumatis, seningga
perlu ditekankan dan dimasukan dalam ketidaksadaran dengan kata lain sudah di
lupakan. Dorongan –dorongan ketidaksadaran bagian terbesar dari kpribadian
ingin muncul dan mendesak terus kesadaran, mempengaruhi tingkah laku; sedangkan tempat di atas sangat terbatas sekali
(Alwisol, 2004, p.16;Corey,1986,p.12).
a. Struktur atau organisasi
kepribadian
Menurut
pandangan psikoanalisi, struktur atau organisasi kepribadian individu terdiri
dari tiga sistem yaitu id, eg o, dan
superego. Pada orang yang dianggap sehat mental, ketiga sistem merupakan
kesatuan organisasi yang harmonis. Sehingga memungkinkan individu berhubungan
dengan lingkungan secara efisien dan memuaskan. Bila tiga sistem bertentangan
satu sama lain, individu mengalami kesulitan penyusuaian diri. Tingkah laku
manusia hampir selalu merupakan produk interaksi ke tiga sistem tersebut.
(Corey, 1986,p.12).
1.
Id
Id
merupakan sistem utama kepribadian, Id berisi segala sesuatu
yang secara psikologis di turunkan, telah ada sejak lahir termasuk insting
yaitu insting untuk mempertahankan hidup (live instinct ) merupakan dorongan
seksual atau libido dan dorongan untuk mati (death instinct) merupakan dorongan
agresi (marah, menyerang orang lain, berkelahi ) (Corey, 1986,p.13). id
merupakan rahim tempat ego berkembang. Id adalah sumber utama dan reservoir atau cadangan dari energi-energi psikis dan
merupakan penggerak ego dan superego yang berhubungan erat dengan proses-proses
jasmani, dari mana energi berasal ( Thompson, et.al., 2004, p.80).
2.
Ego
Ego
merupakan bagian yang memiliki kontak realitas dengan dunia luar, ia bertindak
sebagai eksekutif yang mengatur, mengontrol, meregulasi kepribadian. Ego dapat
dianologikan sebagai polisi lalu lintas (traffic cop) untuk id, superego dan
duni. Tugas utama ego adalah memediasi antara instict dan lingkungan sekitar.
Ego mengontrol kesadaran dan bertindak sebagai sensor ( Corey, 1986, p. 13).
3.
Superego
Superego
merupakan perwujudan internal dari nilai-nilai dan prinsip moral, serta
cita-cita tradisional masyrakat. Superego merupakan wewenang moral dari
kepribadian dan mempersentasikan hal-hal yang edial, bukan yang real,
memperjuangkan kesempurnaan, bukan kenikmatan, memutuskan benar salah,
bertindak sesuai norma moral masyarakat. Superego merupakan internalisasi dari
standar orang tua dan masyarakat, berkaitan dengan hadiah (rewaard) dan hukum
psikologi.
b. Dinamika kepribadian
Insting
merupakan representasi psikologis yang dibawa sejak lahir yang mengacu pada
keinginan (wish) yang merupakan bagian dari kebutuhan (need). Contohnya, lapar
adalah kebutuhan (need) yang mengarah pada keinginan (wish) akan makanan.
Keinginan (wish) ini menjadi motif tingkah laku. Freud percaya bahwa tingkah
laku manusia dimotivasi oleh insting dasar (Thompson, et.al., 2004,p.18).
c. Perkembangan kepribadian
Psikoanalisis
memiliki pendekatan yang unik dalam melihat perkembangan kepribadian manusia.
Freud mengemukakan perkembangan psikoseksual yang merupakan dasar pemahaman
terhadap masalah yang dialami oleh konseli. Corey (1986) menemukan bahwa
permasalahan yang ditemuinya dalam konseling individual dan kelompok adalah
1) Ketidakmampuan
mempercayai diri sendiri dan orang lain, ketakutan akan cinta dan hubungan yang
dekat, serta rendah nya percaya diri (self-esteem).
2) Ketidakmampuan
mengenali dan mengekspresikan perasaan kemarahan.
3) Ketidakmampuan
untuk menerima sepenuhnya seksualitas dari peranan seksual, kesulitan menerima
diri sebagai perempuan atau laki-laki.
Menurut
psikoanalisis freudian, tiga area perkembangan
personal dan sosial di bentuk pada enam tahun pertama kehidupan manusia.
Periode ini merupakan landasan perkembangan kepribadian di masa-masa
selanjutnya (Corey, 1986,p.16-17).
d. Mekanisme pertahanan ego
Mekanisme
pertahanan ego (ego defense mechanisms) membantu individu mengatasi kecemasan
dan terancamnya ego. Pertahanan ego (ego defense) merupakan tingkah laku moral
kerena ia memiliki nilai yang adektif bila tidak menjadi gaya dalam menghadapi
realitas. Mekanisme pertahanan ego (ego defense mechanisms) memiliki dua
kraketristik, yaitu:
1) Menyangkal
realita
2) Mengganti
realitas (distort reality ).
Clark
(1991) mendifinisikan mekanisme pertahanan ego sebagai gangguan ketidaksadaran
dari realitas yang bertujuan untuk mengurangi efek yang menyakitkan dan konflik
melalui respon yang otomatis dan sudah menjadi kebiasaan. Dibawah ini
dideskripsikan beberapa ego defense yang umum digunakan individu dalam
berhungan dengan orang lain adalah:
· Represi
(repression) dan supresi (suppression)
Represi
adalah proses ego memakai kekuatan untuk menekan segala sesuatu ( ide, insting,
ingatan, pikiran ) yang dapat menimbulkan kecemasan keluar dari kesadaran
(Alwisonl,2004, p. 30). Seadangkan supresi adalah usaha sadar untuk melakukan
hal yang sma dengan represi (Thompson, et.al.,2004, p. 83)
· Pembentukan
reaksi ( reaction formation )
Pembentukan
reaksi ( reaction formation ) adalah tindakan defensif dengan cara mengganti
impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan impuls atau perasaan
yang berlawanan atau kebalikannya dalam kesadran.
· Proyeksi
( projection )
Proyeksi
adalah melakukan artibusi pada karakteristik orang lain di luar diri (Thompson,
et.al., 2004, p.83). hal ini dilakukan karena superego melarang, individu
mengatribusikan pikiran, perasaan, motif yang tidak dapat diterima dengan
memproyeksikan terhadap orang lain.
· Rasionalisasi
( rationalisation )
Rasionalisasi
merupakan cara untuk memberi alasan-alasan yang masuk akal sebagai usaha
mempertahankan egonya sehingga seolah-olah dapat dibenarkan. Cara ini membantu
mengurangi ledakan yang akan dirasakan dan juga memberi peluang kepada ego
untuk berlindung dibalik alasan yang diberikan.
· Penempatan
yang keliru ( displacement)
Penempatan
yang keliru adalah mengrahkan energi dari opjek utama ke opjek pengganti ketika
insting terhalangi ( Thompson,et.al., 2004, p.83 ). Cara ini dilakukan untuk
menghadapi kecemasan dengan memindahkan pada obyek yang lebih aman.
· Fixasi
dan regresi
Fixasi
adalah terhentinya perkembngan normal pada tahap perkembangan tertentu kerena
perkembangan selantnya sangat sukar sehingga menimbulkan frustasi dan kecemasan
yang terlalu kuat. Sedangkan regresi adalah usaha untuk menghindari kegagalan
atau ancaman terhadap ego, indivudu mundur lagi ke tahaf perkembangan yang
lebih rendah.
· Penyangkalan
(denial)
Penyangkalan
adalah menolak kenyataan, menolak stimulus atau persefsi realistik yang tidak
menyenangkan dengan menghilangkan atau mengganti persepsi itu dengan fantasi
atau halusinasi.
· Introyeksi
(introjecsion)
Introyeksi
adalah suatu bentuk pertahanan diri yang dilakukan dengan mengambil alih
nilai-nilai dan standar orang lain baik positif maupun negatif
(Loekmono,2003,p.10).
· Identifikasi
Identifikasi
merupakan cara mereduksi ketegangan dengan meniru (melakukan imitasi) atau
mengendentifikasikan diri dengan orang yang di anggap berhasil memuaskan
hasratnya dibandind dirinya. Identifikasi merupakan proses pemindahan enrgi
psikis dari Id dan merupakan mekanisme pertahanan sejalan dengan konsep
pemindahan energi psikis tersebut (Alwisol,2004,p.28).
C. TUJUAN TEORY DAN TERAPY
PSIKOANALISIS
1. Tujuan Teori Psikoanalisis
Tujuan Teori Psikoanalisis antaralain adalah :
a. Memahami individu (understanding-individu),
Memahami individu. Seorang guru dan pembimbing dapat memberikan bantuan
yang efektif jika mereka dapat memahami dan mengerti persoalan, sifat,
kebutuhan, minat, dan kemampuan anak didiknya. Karena itu bimbingan yang
efektif menuntut secara mutlak pemahaman diri anak secara keseluruhan. Karena
tujuan bimbingan dan pendidikan dapat dicapai jika programnya didasarkan atas
pemahaman diri anak didiknya. Sebaliknya bimbingan tidak dapat berfungsi
efektif jika konselor kurang pengetahuan dan pengertian mengenai motif dan
tingkah laku konseli, sehingga usaha preventif dan treatment tidak dapat
berhasil baik.
b. Preventif dan pengembangan individual
Preventif dan pengembangan individual. Preventif an merupakan dua sisi dari satu mata uang.
Preventif berusaha mencegah kemorosotan perkembangan anak dan minimal dapat
memelihara apa yang telah dicapai dalam perkembangan anak melalui pemberian
pengaruh-pengaruh yang positif, memberikan bantuan untuk mengembangkan sikap
dan pola perilaku yang dapat membantu setiap individu untuk mengembangkan
dirinya secara optimal.
c.
Membantu individu untuk menyempurnakannya.
Membantu
individu untuk menyempurnakan. Setiap
manusia pada saat tertentu membutuhkan pertolongan dalam menghadapi situasi
lingkungannya. Pertolongan setiap individu tidak sama. Perbedaan umumnya lebih
pada tingkatannya dari pada macamnya, jadi sangat tergantung apa yang menjadi
kebutuhan dan potensi yang ia meliki. Bimbingan dapat memberikan pertolongan
pada anak untuk mengadakan pilihan yang sesuai dengan potensi dan kemampuan
yang dimilikinya.
Jadi
dalam konsep yang lebih luas, dapat dikatakan bahwa teori Freud dapat dijadikan
pertimbangan dalam melakukan proses bantuan kepada konseli, sehingga metode dan
materi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan individu.
2. Tujuan
Terapy Psikoanalisis
Tujuan terapi Psikoanalisis:
Tujuan
utama konseling dalam pola pikir psikoanalisis adalah membuat kesadaran
(concious) hal-hal yang tidak disadari(unconscious) konseli. Hal-hal yang
terdapat dilevel ketidak sadaran dibawa ke level kesadaran. Ketika hal-hal yang
telah ditekan di dalam ketidaksadaran di munculkan kembali, maka masalah
tersebut dapat diatasi secara lebih rasional dengan menggunakan berbagai metode
(Thompson,et.at., 2004, p.92).
·
Membentuk kembali struktur
karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yg tak disadari didalam diri
klien
·
Focus pada upaya mengalami
kembali pengalaman masa anak-anak
D.
TEKNIK-TEKNIK PSIKOANALISIS
Adapun
Teknik dasar dalam konseling psikoanalisis (Prayitno : 1998, 44) adalah sebagai
berikut:
a. Asosiasi bebas ( Free Association )
Dalam
asosiasi bebas, klien mengabaikan cara normal dalam mensensor pemikiran dengan
secara sadar menekan pemikiran tersebut dan bukannya mengatakan apa yang ada
dibenaknya, meskipun jika pemikiran tersebut terdengar konyol, irasional,
sugestif, atau menyakitkan. Dengan begini, id diminta untuk berbicara dan ego
tetap diam (Freud, 1936). Materi tak sadar memasuki pikiran sadar, dan disitu
konselor menginterpretasikannya.
b.
Analisis Mimpi.
Freud
yakin bahwa mimpi merupakan jalan utama untuk memahami alam tidak sadar, bahkan
menyebutnya “ jalan mewah menuju alam tidak sadar. ” Ia berpikir mimpi
merupakan suatu upaya untuk memenuhi keinginan di masa kanak-kanak atau
ekspresi hasrat seksual yang tidak diakui. Di dalam analisa mimpi, klien
didukung untuk bermimpi dan mengingat mimpi-mimpinya. Konselor harus
benar-benar sensitive terhadap dua aspek mimpi: isi manifestasi (makna yang
jelas) dan isi laten (tersembunyi tetapi makna yang benar) (Jones, 1979). Ahli
analisa membantu menginterpretasikan ke dua aspek tersebut kepada klien.
c. Analisis
Tranferensi.
Transference
merupakan tanggapan klien pada konselor seolah-olah konselor tersebut adalah
Gambar yang signifikan di dalam kehidupan masa lalu klien, biasanya Gambar
orang-tua. Ahli analisa mendukung transference ini dan menginterpretasikan
perasaan negatif maupun positif yang diekspresikan. Pengungkapan ekspresi ini
bersifat terapi, dan meringankan beban. Tetapi nilai sebenarnya dari pengalaman
ini berada pada rasa sadar yang meningkat pada diri klien itu sendiri, yang
keluar melalui analisa transference konselor. Mereka yang mengalami
transference dan memahami apa yang terjadi kemudian akan merasa lepas untuk
maju ke tahap perkembangan yang selanjutnya.
d.
Analisis Resistensi.
Terkadang
klien mengalami kemajuan pesat saat menjalani psikoanalisis dan kemudian
melambat atau berhenti. Resistensi mereka terhadap proses terapi ini dapat
berupa, seperti misalnya melewatkan janji temu, datang terlambat, tidak
membayar biaya perawatan, tetap berada pada transference, memblokir pemikiran
pada asosiasi bebas, atau menolak untuk mengingat mimpi atau kenangan yang lebih
awal. Analisa konselor terhadap resistensi dapat membantu klien untuk
mendapatkan pencerahan tentang hal ini dan juga pada perilaku lainnya. Jika
resistensi tidak dihadapi, maka proses terapi tersebut kemungkinan akan
mengalami kebuntuan lagi.
e. Interpretasi
Interpretasi
harus dipandang sebagai bagian dari teknik-teknik yang telah kita amati dan
bersifat saling mendukung. Ketika memberikan interpretasi, konselor membantu
klien memahami makna peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau dan masa
kini. Interpretasi memberikan penjelasan dan analisa terhadap pemikiran,
perasaan dan tindakan klien. Para konselor harus berhati-hati dalam menggunakan
Teknik interpretasi. Jika dilakukan terlalu cepat, hal itu dapat membuat klien
menjauh. Tetapi, jika tidak digunakan sama sekali atau digunakan terlalu
sering, maka klien akan gagal dalam mendapatkan pencerahan.
f.
Teknik
analisis kepribadian ( case histories)
Pendekatan dinamika penyembuhan
gangguan kepribadian dilakukan dengan
melihat dinamika dari dorongan primitif (libido) terhadap ego dan
bagaimana superego menahan dorongan tersebut. Apakah ego bisa memepertahankan
keseimbangan antara Id dan superego. Kemudian dicari penyebab mengapa ego tidak
dapat mempertahankan keseimbangan itu (Thompson,et.at., 2004, p. 92).
Pendekatan secara khusus (case history) bertujuan untuk melihat fase-fase
perkembangan dorongan seksual apakah berjalan wajar apakah ada hambatan dan
pada fase mana mulai terjadi hambatan.
E.
PERAN,
FUNGSI KONSELOR DAN KONSELI
Peran Konselor antaralain :
Sebagai guru
Sebagai interpretor
Sebagai analisator
Sebagai penampung ungkapan / pendengar aktif
Fungsi konselor dalam konseling Psikoanalisis sangat
dominan. Konselor menentukan proses dan arah konseli. Peran dan fungsi konselor
pada pendekatan ini adalah :
1.
Percaya
bahwa apapun perasaan konseli terhadap konselor merupakan produk dari
perasaannya yang diasosiasikan dengan orang yang penting dengan masa lalunya.
2.
Membantu
konseli menemukan kebebasan bercinta, bekerja dan bermain
3.
Membantu
konseli menemukan kesadaran diri, kejujuran dan hubungan pribadi yang efektif,
dapat mengatasi kecemasan dengan cara realistis, dan dapat mengendalikan
tingkah laku impulsif dan irasional.
4.
Berupaya
agar konseli mendapat wawasan terhadap permasalahan dengan mengalami kembali
dan kemudian menyelasaikan pengalaman masa lalunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar